Showing posts with label pointofview. Show all posts
Showing posts with label pointofview. Show all posts

Tentang Mimpi

Mungkin aku sedang rindu, sehingga malam ini ada Engkau di dalam mimpiku..

Saat aku terlelap ke dalam alam bawah sadar, Kau hadir dengan jelas disana.

Mengenang di setiap titiknya. Aku hadir di depanMu dengan sangat jelas.

Seakan aku memang berada disana.

Kemudian menjelang pagi, aku merasa bahwa ini nyata. Bahwa aku berada di sisimu untuk kali kedua.

Atau ketiga?

Semoga ini benar..

Semoga ini akan menjadi nyata

Bahwa aku ada disana lagi. 

Untuk kedua kali..

Ketiga kali..

Dan seterusnya..


Dia adalah...






Sekolah Atau Menikah (?)

Pernah nggak, dihadapkan dengan sesuatu permasalahan yang rumit, yang belum pernah dialami..?

Pergulatan batin tentang rencana masa depan yang menyangkut banyak orang.

Sekolah atau menikah?

Iya ini yang sedang gue pikirin sampai menjelang subuh gue nggak kunjung tidur. Keinginan gue untuk sekolah sampai Belanda, kadang mesti kudu dikaji ulang lagi.

Kenapa?

1. IP gua nggak nyampek bro untuk apply beasiswa. HAHAHAHA. Tapi ini masih diusahakan. Semoga aja Dewi Fortuna berpihak sama gue.

2. Ditantang menikah. Siapa coba yang ngga mau nikah? Orang yang ngga punya pacar aja minta-minta dikawinin, nah ini gua ketika udah ada yang ngajak ke pelaminan masih mikir-mikir aja. Huuffffhhh.

3. Omongan orang. I know that people's nyinyir nggak seharusnya masuk ke list pertimbangan kenapa gue harus mikirin ini masak-masak sih.. Tapi, pasti nggak sedikit orang yang bakal nyinyirin pilihan gue, kalo semisal gue pilih sekolah -nanti ga ada orang yang mau karena lo sekolah ketinggian- atau kalo gue milih nikah dulu baru sekolah -kasian suami ditinggal jauh ke luar negeri-

OMG..

I see bahwa pendidikan dan keluarga itu nggak bisa jalan bareng-bareng. Harus salah satu. Karena kalo memprioritaskan keduanya, salah satu bakalan ancur. Entah keluargamu atau pendidikanmu. Gituseeee kata orang.


Tapi kalo calon bojo bisa nerima ambisi (ciailaaa ambisi...ga deng, cita-cita), ga masalah kan ya...? 




Gimana nih calon suami..?




Atau menurut kaliyan, sekolah dan menikah itu bisa jalan barengan gasih? Atau memang harus ada yang dikorbankan salah satu?

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis. Krisis seperempat abad adalah sebuah fenomena yang dialami hampir sebagian orang yang menjelang atau sedang menjalani usia 25 tahun.

Usia 25 merupakan usia dimana seseorang boleh dikatakan dewasa. 

Termasuk gue. Di tahun 2018 ini gue resmi menyandang usia 25 tahun. Artinya, rencana kedepan sudah harus lebih matang dan dalam pengambilan keputusan sudah seharusnya tidak dengan gegabah.

Bagi sebagian orang, quarter life crisis mereka adalah tentang mau kerja dimana, nyaman nggak sama pekerjaan sekarang, mau lanjut kuliah lagi nggak, S2 apa nikah aja ya, teman-teman sudah banyak yang menikah kok aku belum, pacar serius ngga yah, kok kenyataan hidup ini pahit banget yah, aku juga mau bahagia juga dong.. dan semua hal yang perlu dipertanyakan namun hanya dirimu lah yang bisa menjawab.

Let me tell you about my quarter life crisis.

Hidup gue awalnya biasa-biasa aja, gini-gini aja, nggak ada yang istimewa. Di kontrak oleh negara sampai umur 60 tahun membuat hidup gue yaaaa gini-gini aja. Mengikuti kemana arah kebijakan pemerintah.

Datang-absen-terlambat-mulai kerja jam 9-makan siang sampai jam 3-absen pulang-

hhhhhhh


Ya selama ini begitu. Gua nggak akan ceritain sulitnya lah. Nanti kaliyan-kaliyan jadi nggak mau jadi Pe-En-Ice.

Namun semua berubah dari hari ini. Gue mulai mempertanyakan kemana hidup ini akan gue bawa.

Mulai dari perdebatan kemarin malam mengenai permasalahan hidup yang rauwis-uwis.

Working mom or housewife.

Gue marah-marah karena pernyataan seseorang di status Fb nya kalau "percuma perempuan sukses kalo ga bisa urus keluarga dan anaknya diurus pembantu."

Entah kenapa gue merasa sakit hati bacanya. Gue calon working mom nantinya. Bukan berarti gue nggak boleh sukses kaaaannn...?? Dan kalo gue sukses, bukan berarti keluarga gue berantakan kaaaaannnnn....?


***

Lalu perdebatan mengenai untuk apa sih kerja?

Yakin cuma cari uang?

Nggak cari muka kah?

Seandainya jawabannya adalah sesimple mencari uang yang halal...., namun kenyataan nggak segampang itu.

Selama ini gue melihat sebagian orang bahagia dengan pencapaiannya (secara finansial) namun sekeliling dia tidak bahagia akan kehadirannya.

"eh... si X ini gimana sih kalau di kantor?"

"halaaahhh dia ini kasar... males gue deket-deket sama dia.."

Gue: ............


Gue: selama ini gue pikir mereka kompak lho.. pertemanan mereka asyik.

"halaaahhh asal lo tau ya, mereka saling iri. Lihat spd siapa yang paling banyak tahun ini... Traktirrrr doongg... Cieeee yang ke Papua... enak ya bisa jalan-jalan..."

Gue: .............


"tau nggak sih... setelah si Y dipindah gue berangkat kantor itu ngerasa legaaaa banget."

Gue: ...... (gue sedih tingkat dewa gara-gara ditinggal kasub gue, udah pernah gue tulis disini)


"Si W dipindah, si U dipindah juga, dan akhirnya si F ngga ada yang diajak buat shift. Artinya F harus lembur seorang diri tanpa benefit yang sesuai. Gue tau ini ulah si J. Karena ada anak bayi dan istrinya kerja."

Gue: Welcome to real life. Bahwa urusan pribadi lebih penting daripada nasib orang lain.

***

Selama ini egoisme gue adalah: 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.


Entahlah prinsip ini akan bertahan sampai kapan... Kenyataan ini begitu pahit bagi orang yang sedang bergejolak di umur menjelang seperempat abad.







Literally, I need someone who understand about life and discuss about life to make real life as good as we think..



All iz well..

Rotasi Pegawai, Yay Or Nay?

Disclaimer: Tulisan ini murni opini dari saya pribadi, tidak ada sangkut paut atau bermaksud untuk menjelekkan instansi saya, atau maksud negative lainnya.


Tahun baru yang sedikit suram untuk pekerjaan saya. Dunia per-PNS-an ini sedikit banyak mengubah hidup saya. Waktu saya tergantung dengan pekerjaan saya. Semua serba tak pasti. Bahkan rencana sematang apapun, bisa gagal hanya karena tugas negara. 

Iya. Sudah booking pesawat PP, semua batal karena tugas dinas. Sudah booking kereta, namun terpaksa hangus karena jadwal rapat mendadak.

hhhhhh.....

But, i have to face it.

Dari sekian takdir yang kadang bikin hari meringis-meringis itu, ada satu hal yang paling membuat sedih luar biasa.

Rotasi pegawai.

Mungkin tujuannya adalah penyegaran, baik pimpinan maupun pegawainya sendiri. Bagi pimpinan mungkin sebagai event untuk meningkatkan skill diluar pendidikan formalnya atau menambah pengalaman atau pengetahuan selain bidang yang dikuasainya.

Ada positifnya, bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui bangku sekolah saja, namun did you know that archive is different?

Arsip itu berbeda. Dunia kearsipan membutuhkan SDM dengan skill yang tidak biasa. Dunia kearsipan membutuhkan orang-orang yang kompeten di bidang arsip.

2x kami kehilangan pemimpin yang kompeten meskipun pendidikan formal mereka dari ekonomi.

Namun komitmen mereka untuk memajukan arsip di Kementerian, sungguh luar biasa. Bahkan seorang Widya Pratiwi bisa memahami arsip bahkan mungkin lebih banyak daripada kami-kami yang notabene lahir dari pendidikan kearsipan.

Sisi ingin tahu dan mau belajar dari sosok Widya Pratiwi ini yang patut untuk seharusnya beliau dipertahankan. Kearsipan perlu orang-orang yang mau belajar, komit, dan tegas. Bukan orang-orang yang gila harta menghalalkan segala cara untuk dianggap berada dan bukan orang-orang labil yang gampang tergiring opini.

Pendidikan kearsipan adalah pendidikan yang sulit menurut saya. Sehingga orang-orang di dalamnya perlu niat, komitmen, dan integritas yang tinggi untuk memajuan kearsipan KESDM lebih baik lagi.

Dengan adanya rotasi, kami harus beradaptasi dengan pemimpin baru, menyesuaikan dengan ritme kerja beliau, dan harus bisa mengikuti atau bahkan mengarahkan kemana subbagian ini akan terbang dengan kapten yang baru.

Rotasi seharusnya tidak secepat ini. Terpaut 1 tahun dari kasub sebelum dan sebelumnya, dan kini kami harus beradaptasi lagi. Kalau beradaptasi terus kapan kerja seriusnya? Kalau harus menyesuaikan terus kapan selesai pending matters-pending matters itu?

Di Kasub sebelumnya, perencanaan sudah matang tinggal eksekusi, kemudian kena rotasi, beberapa perencanaan tidak berjalan sesuai rencana. Kemudian Kasub yang ini perencanaan sudah tinggal pelaksanaan saja harus beradaptasi lagi, dan kemungkinan beberapa rencana tidak berjalan sesuai yang sudah direncanakan.

Jadi menurut saya, khususon kearsipan rotasi diberikan setelah lebih dari 3 tahun jadi pekerjaan yang sudah terencana dengan baik bisa diwujudkan sesuai dengan perencanaannya. 




CMIIW

Melawan Kerasnya Kehidupan

Jakarta, selain menyandang predikat Ibukota Negara Republik Indonesia, juga sebagai kota terkeras yang pernah gua tempati, atau bahkan mungkin kota terkeras yang bakal menjadi tempat tinggal gua sampai tua nanti.

Kerasnya ibukota tak hanya sebatas kerasnya fisik. Bertaruh waktu agar sampai kantor tempat waktu, atau berdesak-desakan di KRL Commuter Line atau metromini, yang tak jarang kekerasan fisik pun seksual menampar para pekerja perempuan.

Gua pernah salah satunya.

Betapa Jakarta tidak untuk orang yang lemah, nyata adanya.

Kenapa nggak cerita, kenapa nggak bilang? Karena orang yang mendapat pelecehan seksual, mereka cenderung takut dan malu. Orang yang mendengar cerita kita pasti akan bereaksi dengan menyalahkan. Iya atau iya? Kenapa nggak lo giniin, kenapa nggak lo anuin..? Orang yang ketakutan, mana bisa mikir sampe situ, mb?

Beberapa hari ini, berita dimana-mana menceritakan tentang seorang perempuan yang digerayangi oleh penumpang pria di CL. Yang gua rasakan? Kasian. Mbaknya udah trauma, masih dihakimi oleh sejagat penghuni dunia maya, yang bahkan kebanyakan mereka yang menghakimi adalah.... perempuan juga.

Perempuan itu lebih jahat ke sesama perempuan.

It's true. 

Di dunia per-KRL-an pun, gerbong khusus wanita adalah gerbong terhoror dari seluruh rangkaian kereta yang ada.

Dear mbak-mbak di luaran sana, bisakah kalian menaruh simpati lebih kepada yang bejenis kelamin sama dengan kalian?

They need your support instead of judgment.

Sama halnya yang gue alami. Gue pernah ada masalah yang cukup membuat gue depresi dan hampir gila. Pernah gue ceritain disini.

Masalah itu serius bagi gua, tapi sepertinya nggak buat temen-temen gue. Jadi mereka menganggap itu sebagai jokes yang layak untuk ditertawakan.

Dan teman itu, perempuan.

Perempuan lebih jahat ke perempuan ✓

Gue nggak tau apa yang ada di pikiran mereka, tidakkah mereka seharusnya mensupport gue untuk bisa bertahan lebih kuat lagi, alih-alih mencemooh.

Siapa yang mengira bahwa orang yang dikiranya baik justru berbalik arah?
Siapa yang mengira bahwa orang yang gue pikir bisa sayang sama gue tulus, bahkan berniat untuk membunuh gue?
Siapa yang bakal tahu, bahwa nyawa gue hampir aja ilang dalam hitungan sepersekian detik?

Nggak ada yang bakal tahu. Sekalipun gue.

Siapa yang mau hidup dengan seperti itu. No one. Including me.

Kalo gue bisa minta, gua bakal minta hidup seperti kalian wahai orang-orang yang sempurna.

Atau mungkin, gue yang notabene orang desa, yang nggak tau gimana menghadapi kerasnya Jakarta? Atau mungkin guenya aja yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan Jakarta? Atau guenya aja yang terlalu lemah dengan kerasnya kehidupan di Jakarta? Sehingga jokes-jokes yang melibatkan hati dan psikologis merupakan jokes yang wajar?

.
.
.
.
.
Menurut kalian?

A Moment to Remember: 7 Days In Baitullah

Salah satu bucket list saya yang nggak tertulis di blog ini di setiap akhir atau awal tahun adalah mengunjungi Baitullah.

Sejak tahun lalu, sebenernya udah ada keinginan untuk umroh, dana pun ada tapi mungkin yang dikatakan orang-orang mengenai "panggilan" itu benar adanya.

Akhirnya, panggilan itu sampai kepada hati saya di tahun ini.

Dua ribu tujuh belas.

Alhamdulillah Hirobbil'alamiin..

So, let me tell you about my bucket list :) 

Pernah denger tentang kasusnya Fi*st Trav*l?

Yak! Salah satu peristiwa yang cukup membuat orang-orang mampu di Indonesia berfikir 1000x lipat untuk menentukan travel mana yang cocok dan amanah.

Tak terkecuali saya, anak muda yang engga tahu apa-apa, punya keinginan untuk berangkat ke Baitullah ketika kasus *T sedang hangat-hangatnya. Takut, pasti. Khawatir, iya. Apalagi ditambah dengan cerita bahwa calon mertua kawan sekamar (dulunya) juga merupakan korban *T. Sekian puluh juta raib.

Takut dong pasti jelas. Mana kita punya uang carinya pake berdarah-darah kan... Heeee...

Kemudian bermodal google, saya searching nama-nama travel kemudian cari yang sekiranya dekat dengan tempat tinggal dan kantor.

Masuk sekitar 5 travel yang ada di daerah Bintaro dan Ciputat.

Karena masih ragu, saya mencari daftar travel yang terdaftar di Kemenag.

Saya baca itu attacment .pdf satu-satu.

Ternyata banyak sekali ya travelnya. Namun saya menfokuskan pencarian ke nama 5 travel yang udah saya kantongi itu.

*ribet yeuh*

Setelah scroll-scroll itu daftar panjang, saya mengerucut ke Arfa Tour yang ada di Bintaro sektor 7. Kawasan elit euy. Wkwk.

Setelah itu datang tanya-tanya bla bla bla, okelah cocok pake Arfa aja. Mbak dan Masnya juga ramah. Dataku belum lengkap aja ditanyain mulu suruh buruan.. Wkwk.

Tapi ongkos nggak ditagih-tagih mulu kok alhamdulillah..wkwkwk.  gak kayak ibuk kontrakan yang gajian aja belom udah ditagihin mulu. BHAY!!

Aku daftar sekitar bulan juli, setelah itu ngurus paspor, vaksin, dan apalagi yaaaa yang diperluin?? Kayaknya itu aja. Batas pengumpulan dokumen sekitar awal oktober karena saya ambil pemberangkatan tanggal 8 November yang sedianya tanggal 13 November.

Gapapalah. Gak ada agenda pun dari kantor.

Dokumen yang diperluin apa aja sih?

Sok cek aja ke web-nya Arfa iya, 

http://arfahajiumroh.com/

Yang paling penting, passportnya 3 nama. 


***

Persiapan yang serba mendadak.

Pemberangkatan tanggal 8 ini ternyata membuat saya sedikit terburu-buru. Banyaknya kegiatan kantor plus tugas-tugas kuliah membuat saya sedikit kewalahan membagi waktu. Ujian saya keteteran, dinas-dinas nggak maksimal, persiapan pemberangkatan aja cuma paling 30% aja karena saking padatnya kegiatan.

+ sakit.

Iya, sehari sebelum berangkat saya ke dokter THT karena telinga sempet berdengung sejak landing dari Banyuwangi. Sempet dilarang untuk terbang sama dokter cuma ya gimana dok saya udah terlanjur harus pergi.

Akhirnya obat ditambahin hingga nominal hampir 1juta.

OMG. PADAHAL ITU KAN BUAT SANGU.

Its okelah daripada akunya kenapa-kenapa.

Let's go to due date.

Bapak yang sedianya mau nganterin sampai bandara pun harus batal karena belio juga kesehatannya sedang menurun, akhirnya berangkat hanya ditemani adik. :) :) :)

Padahal yang lainnya yang nganterin sak ndayak dan saya cuma sama adek.

Ndakpapa. 

Saya terbang menggunakan pesawat Saudi Airlines. Perjalanan menuju King Abdul Aziz Airport menempuh perjalanan sekitar 9 jam, dengan perbedaan waktu Saudi dengan Indonesia kurang lebih 4 jam. Indonesia lebih cepat tentu saja.


Kami landing di Jeddah sekitar jam 2.30 pagi waktu Saudi, checking paspor lumayan agak lama karena orang-orang imigrasinya ini super selawww. Jadi ada beberapa counter yang petugasnya nggak ada, petugasnya lagi curhaat. Jadi kita-kita ini harus punya kesabaran yang luber-luber.

Setelah check paspor selesai, kami disuruh menunggu entah apa sampai sekitar jam 6. Selama menunggu itu kami dikasih makan. Baik. Setengah 6. Makan berat. Baik.

Setelah itu berangkat ke Makkah kita, sekitar jam 8 kami sampai hotel. Disuruh makan. Lagi. 

Pokoknya di Makkah itu isinya makan aja dah pokoknya, selain beribadah tentu saja. Wkwkwk.

Mecca o'clock. The Holy Kaaba is near.

Setelah makan kami melakukan ibadah umroh.

For the first time i see the Kaaba. I am crying. Literally crying. I can see the Kaaba with my own eyes. I can see the Holy Kaaba, i can touch it with my own hand where it is only in my previous imagination. I still cannot believe that i can see it directly. 

Alhamdulillah.

Sebenarnya umroh ini ibadah yang cape banget, serius, berkali-kali rasanya mau nyerah, berkali-kali rasanya mau nangis karena saking capenya, saking engga kuatnya. Tapi semua itu rasanya sirna begitu melihat sekeliling. Banyak orang-orang tua yang dengan semangatnya mereka lari-lari kecil ketika sya'i. 

"dan stamina mu cuma segini Ta?" dalam hati begitu. "nggak malu sama nenek-nenek disamping?"

Seketika kekuatan yang tadinya melemah langsung ter-charge full.

I can do this!

Dan perjuangan berakhir dengan counterpain di sekujur tubuh ketika mau tidur.

Berdasarkan inilah saya merekomendasikan siapapun yang telah mampu, untuk segera menyisihkan pundi-pundinya untuk berangkat ke Baitullah, jangan tunggu tua, karena ini capai sekali. 

4 hari di Makkah benar-benar 4 hari yang luar biasa. Nggak akan terlupakan seumur hidup.  4 hari rasanya masih kurang, inginku menambah hari disana. Meninggalkan Makkah adalah perpisahan paling sedih menurut saya. Rasanya masih ingin disana lama-lama. Nggak pernah saya merasakan ibadah yang setenang dan sedamai di Makkah. 

***
Another experience in Makkah

Out of topic, 

Ada pengalaman menarik selama di Makkah. Jadi, saya itu makan bareng sama orang India. And do you know, mereka itu makan menggunakan piring penjara (saya menyebutnya begitu), karena ada trauma tersendiri dengan piring penjara itu. Bukan karena saya pernah di penjara, bukan. Itu karena Brigade Energy (ceritanya menyusul yaaa..).

Saya pikir kita bakalan makan dengan piring penjara tadi, saya udah ketakutan setengah mati dan kalo makannya pake itu saya nggak akan makan di hotel.

Namun alhamdulillah makanan Indonesia masih selayaknya makanan Indonesia. Dengan piring cantik dan makanannya Indonesia banget, dan piring penjara itu hanya untuk Indians saja.

Kemudian makanlah saya gabung dengan Indians ini. Masha Allah ya, cara makan mereka. Luar biasa. Berantakan. Dan membuat mual. Tangan 5 masuk piring semua, tulang sapi (atau kambing?) berantakan di meja, kuah sayur tumpah-tumpah. Subhanallah.. 

Dengan kejadian itu membuat saya bersyukur sejuta kali telah dilahirkan di Indonesia, khususnya Jawa yang menjunjung tinggi unggah ungguh dan tata krama yang kental. Bayangkan, cuma mau ngasih nasi ke tetangga, kalo ngomongnya salah aja aku diomelin sama bapak dan suruh latihan dulu.

"hayo gimana ngomongnya..?"

"bude, niki maringi daharan..?"

"NGAWUR!! NGATURI BUKAN MARINGI. coba ulangi."

..... baik. 

***
3 days in Medina.

21⁰ suhu di Madinah pagi hari menjelang winter, cukup bikin kulit kering pecah-pecah dan bibir pecah-pecah pula. Karena persiapan yang serba mendadak jadinya lipbalm ketinggalan :(.

Di Madinah, dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi, tempat dimakamkannnya Nabi Islam Muhammad SAW, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua Agama Islam setelah Makkah. Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan Hijrah dari Makkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibukota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langsung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali. Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang. Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain. Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah Al-Quran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang nampak perbedaannya dengan surah Makkiyah. Seperti kota Makkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah. (source: Wikipedia)


Me in front of Nabawi Mosque.
Khasnya Masjid Nabawi adalah payung-payung yang ada di halamannya, yang terbuka setelah subuh dan menutup setelah ashar. Melihat payung ini terbuka adalah moment yang luar biasa.

the umbrella

Di Madinah.. disinilah pertama kali makan Albaik!! Nggak tau albaik? Go ask uncle Google :).
albaik

Tiga hari di Madinah, menjadi penanda bahwa perjalanan ini harus usai. Harus kembali ke tanah air untuk menumpuk pundi-pundi dan harapan supaya suatu hari nanti bisa ke Baitullah lagi.

Di hari pulang, saya benar-benar menangis. Banyak hal, diantaranya rasa nggak percaya bahwa saya bisa sampai ke Rumah Allah, rasa ingin lebih lama disana, rasa haru, bahagia, sedih yang nggak bisa diungkapkan dan menghasilkan air mata sepanjang perjalanan ke Bandara.

Doa sepanjang jalan, semoga dimudahkan untuk kembali lagi, dengan keluarga kecil saya, dan/atau keluarga besar saya. Semoga....




Dan semoga perjalanan ini menjadi tolok ukur kami untuk menjadikan kami sesorang yang lebih baik dari sebelumnya, lebih khusyu' sholatnya, lebih rajin ngajinya, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih sabar, lebih ikhlas, dan hablumminannas kami menjadi lebih baik. Inshaa Allah :)






the last..
Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada Arfa Tours, Pak Slamet, Kak Hudy dan team yang telah membimbing kami, memudahkan urusan kami, membantu kami sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci, dan setelah sampai kembali ke Indonesia. Beribu-ribu terima kasih saya ucapkan semoga Arfa tour, pak Slamet, kak Hudy dan Team, senantiasa amanah, barokah, diberikan selalu kemudahan dalam setiap urusan, diberikan kesehatan dan sukses dunia akhirat. Semoga kita dipertemukan kembali di lain kesempatan. Semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berlimpah ruah kepada kita semua. God Bless You all  :)))))).










With love,
Meta.

Yang Sudah Dekat pun [Masih] Tak Bisa Menyatu

Haaaiiiiii *melambai-lambai dari ketinggian 900mdpl*

Sedah berapa lama sejak gue terakhir nulis? Banyak banget event blog yang udah gua lewatin sangking kesibukan dunia nyata nggak bisa diistirahatin.

Oh iya, Selamat Hari Blogger, untuk para penulis-penulis blog yang jatuh pada tanggal 27 Oktober yang lalu. Semoga semangatnya menulis tetap membara, nggak kayak gue yang kadang males, kadang males banget *digebuk*

Baik. Semoga dengan event hari blogger yang sebenernya udah lewat lama banget ini, gue, sebagai blogger abal-abal tetep bisa konsisten menulis *bersulang*.

Balik ke judul ah, kadang yang sudah dekat pun masih tak bisa menyatu. Eng.... jangan salah fokus deh, fokesnya agak dipindah dulu ke sisi timur Jawa, the sunrise of Java.

Yap! Banyuwangi.

Selama hampir 9 tahun aku punya akun twitter, sejak tahun lalu akun portal berita selalu dengan headline "Banyuwangi, Banyuwangi, Banyuwangi". Ada apose sama banyuwangi kok bisa se hits itu?

Kali ini gua dapet kesempatan berkunjung ke Banyuwangi dalam rangka, kerja.

Yaaaa apalagi kan kalo ndak kerja. Buruh kek gua ini gakan bisa jalan2 kecuali nabung dan nggak makan.

Tugas dinas kali ini membawa gue ke Gunung Raung. Pos Pengamatan Gunung Raung. Setelah 2 tahun ke belakang gua tugas ke Gunung Kelud dan Gunung Dempo.

Sebelum gue berangkat, gue berdebat sama kawan di kantor bahwa pos pengamatan Gunung Raung ini menjadi satu dengan pos pengamatan Gunung Ijen. Sementara pos pengamatan Gunung Ijen ini pernah dikunjungi oleh tim kearsipan Biro Umum di tahun 2013.

Pada kenyataannya, mereka dipisah. 




Pos pengamatan Gunung Ijen berada di Kampung Pangsungsari, Licin, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Sementara pos pengamatan Gunung Raung berada di Desa Sumber Arum Kec. Songgon, Banyuwangi. Padahal secara fisik kedua gunung ini berdekatan.

G. Raung dan Ijen via Google Maps
Gunung Raung dan Ijen via legrexadventure.blogspot.com
Berdasarkan penjelasan dari Pak Mukijo, beliau ini guanteng tapi anaknya dah TK, dulu sekali kedua gunung ini memiliki pos yang sama dengan kata lain, 2 gunung satu pos pengamatan seperti Sindoro Sumbing. Namun seiring berjalannya waktu kedua gunung ini memiliki ciri fisik yang berbeda sehingga visual Gunung Raung tidak dapat teramati dengan jelas jika pos tetap berada di kawasan Ijen. Oleh karena itu dibangunlah pos pengamatan Gunung Raung di Desa Sumber Arum ini. Berada di kaki G.Raung dengan ketinggian 900mdpl.

Suhu dan cuaca di pos pengamatan Gunung Raung (PPGA Raung) cenderung sama seperti waktu di Kelud, siang sekitar 27-28 derajat celcius sementara pada malam hari sekitar 20-21 derajat dan pagi hari 19 derajat.

Kondisi air jangan tanya lah yaa... Jernih dan layaknya es yang mencair. Ntap!

Jalur pendakian G.Raung berada di Kab. Bondowoso. Sekitar 6jam dari Banyuwangi. Para PGA pun harus ke Bondowoso jika akan ke puncak. Karena jalur selain dari Bondowoso memiliki medan yang berat, terdapat banyak jurang dan tak jarang pendaki harus merangkak. Pernah ada kejadian para pendaki tersesat sampai 3 minggu dalam event membuka jalur, namun karena jalur terlalu ekstrem, mereka gagal. 

Untuk sampai ke puncak dan turun lagi membutuhkan waktu 2 hari 1 malam, udah termasuk campingnya. Wow.. tertarik?

Ciri khas G.Raung adalah puncak sejati. Ingat ya Puncak Sejati itu punya Raung bukan Semeru. Orang kadang kebalik-balik. 

Pada tahun 2015, G.Raung batuk-batuk, yang mengakibatkan 5 bandara ditutup selama 2 hari kalo ndak salah. Bandara Bali, Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Lombok. Gilee bandara Bali aja di tutup gimana dah para pebisnis itu? Sail Bali kali ya. wkwkwkw

Pokoknya kunjungan ke gunung itu ndak pernah mengecewakan, ada aja yang bisa diceritain dan didengerin dari para pengamat-pengamat ini. Apalagi kalo gunungnya lagi batuk-batuk, pasti ada aja yang dateng ke Pos, sementara kalo gunungnya anteng yaaa siapa yang mau dateng? terakhir absen buku tamu aja april 2017. :)))))

Yah walaupun dibutuhinnya kalo pas darurat aja, yang pasti kaliyan terbaik, sudah menyelamatkan nyawa warga dan segala bentuk pengabdian ke masyarakat. Dan yang pasti udah icip-icip ke Hawaii. Duhhh envyyyyyy........





bersama para punggawa G.Raung

Formasi Satu Aja Nih!

Haiii... semalem bukaan cpns lagi guys.. 61 instansi pemerintah katanya..?

Gua jadi ke flashback 3 tahun lalu. Gimana riweuhnya milih intansi dan ngurus berkas-berkas pendaftaran dan belajar dan main.


Rasanya kek baru kemarin aja gitu kan, taunya udah 3 tahun yang lalu.



---

Gua mau cerita ya guys, boleh yaa... ehe.

Pendaftaran CPNS kali ini sepertinya sedikit berbeda dari 3 tahun yang lalu. Kalo dulu, pilihan semua jurusan ada banyak. Banget. 1 jabatan bisa dengan kualifikasi pendidikan apa saja. All major.


Tapi sekarang, setelah gua ikut uforia pembukaan cpns, kayaknya all major ditiadakan. Semua jabatan menyebutkan kualifikasi pendidikan yang jelas. Misal, arsiparis hanya bisa diisi oleh mereka yang memiliki ijazah DIII Kearsipan atau S1 Kearsipan. Kalo dulu, ada instansi yang memilih kualifikasi pendidikan semua jurusan.


Tahun ini, jumlah formasi yang dibutuhkan juga lebih sedikit, masing-masing jabatan paling 1 atau 2 orang.


Ini, yang menjadi momok mengerikan buat sebagian orang. Kawan-kawan yang bertanya ke gue, mereka lebih ke pesimis karena formasi kebutuhan yang cuma.... satu.


Please, jangan menyerah.


Jangan merasa kalah sebelum berperang.




Sini ikut gue yuk, kita ngopi, gue mau cerita sesuatu.



Waktu gue masuk cpns dulu, pun sama kek kalian, bingung. Tapi alhamdulillah bingungnya gue karena memilih Kemenkeu atau Kementerian ESDM.


Saingan? Nah.. sempet sih takut mendaftar Kemenkeu karena.... saingan. ehe. nggak munafik kalo, gue mencoret Kemenkeu karena saingan. Jadi dulu ada temen gue yang cumlaude dan dia rajin bener belajarnya terus berhasil bikin gua mundur dari Kemenkeu.



Tapi you know what? Dia nggak keterima.



Lalu, begitu gua fiks milih Kementerian ESDM, gue sempet bingung milih unit. Karena waktu itu yang membuka arsiparis nggak cuma 1 unit. Lagi-lagi.. gua mikirin saingan. Semakin banyak formasi yang dibutuhkan, semakin banyak saingannya.



Waktu itu paling banyak formasi di Biro Umum, 6 orang. Selain itu masing-masing 1 orang. Kebayang ngga saingannya kayak apa?


Tapi, unit yang formasi 1 orang itu, pendaftarnya juga cuma 1, malah waktu pendaftaran sempet diperpanjang karena ngga ada yang daftar. 


Padahal biro itu super keren di ESDM (ini gue tau setelah gue keterima dan kerja disini).


Yang formasi 6 orang ini, yang daftar berapa? 20 orang, bray! Iya sih cuma 20, tapi kaka tingkat semuwa. Minder ngga? Sempet. 1:3 orang. Satu orang harus ngalahin 3 orang lainnya.



Begitu hari H TKD. Jeng jeng jeng....



I got 2nd place in archival team!! Artinya, gua, anak lulus 2 bulan yang lalu bisa ngalahin kaka tingkat yg lulusnya 2 tahun yang lalu.



Jadi, gua mau bilang ke kaliyan semua yang mau daftar CPNS. Jangan nyerah, jangan perduliin saingan. Please, do your best. Kalo lo udah berusaha, lo udah siap, dan yeaaa lo yakin lo mampu, saingan ratusan juta orang pun lo pasti bisa hadapin.








Inget, lo itu kan sel sperma yg paling kuat, bukan begitu?
Posted on September 06, 2017 | Categories:

Tuhan [memang] Maha Adil

Sering saya mendengar orang, bahkan mungkin teman sendiri, bahkan saya sendiri dulu pernah menyebutkan bahwa Tuhan tak pernah adil.

Hanya karena, saya lolos ujian padahal saya tidak berusaha dengan maksimal ketika melalui rangkaian ujian CPNS, sedangkan kawan saya yang berjuang mati-matian untuk lolos, dia tidak lolos.

Bukan saya tidak bersyukur. Bahkan saya menangis saat pengumuman.

Namun berefek pada kinerja saya yang gitu-gitu aja.

Saya masih menilai Tuhan tidak adil.

Hingga suatu ketika...

Saya mendapat ujian atau balasan, yang diluar kendali saya, yang mengubah mindset saya tentang keadilan Tuhan.

Mungkin menurut kita, Tuhan nggak adil. Tapi menurut Tuhan, itu sudah yang paling adil.

Dulu, saya sering merasa, kenapa kawan saya yang satu itu bergelimpangan rezeki. Kenapa yang lain dengan mudahnya melakukan apa yang dia mau.

Yang saya nggak tahu, bahwa pekerjaan dia berat, tuntutan pimpinan banyak, belum lagi untuk kemajuan karirnya dan pendidikannya.

Sedangkan saya, hanya duduk manis menyelesaikan pekerjaan sesuai target, sambil ngeblog.

Ketika saya merasa kok orang lain dengan mudahnya mendapat jodoh, gue kok gagal mulu.

Yang saya nggak tau, dia tiap malam sholat tahajjud, sholat hajat, sehingga Tuhan mengabulkan doa-doanya.

Dulu, saya berfikir bahwa semudah itu kah mendapatkan yang mereka mau, sekolah di luar negeri, eurotrip, dsb..

Yang saya nggak tau, dia belajar siang malam tanpa mengenal lelah. Sedangkan saya... mainan handphone jadi ketinggalan beberapa lomba blog.


Tuhan itu adil, manusia yang sering tidak menyadarinya.


Mungkin dulu, saya merasa kok saya sudah mapan, belum juga ada yang mau. 


Lagi-lagi sentilan Tuhan, lebih baik sendiri memperbaiki diri, daripada lekas tapi terjatuh pada pilihan yang salah.


Atau, konsekuensi atas semua yang sudah direncanakan.


Mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu, atau seseorang yang bisa menerima rencanamu, atau yang bisa menerima kehancuran hatimu saat ini.





Wallahu 'alam.