Showing posts with label Cerita Jalan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Jalan. Show all posts

#AyoKeMuseum Kereta Api Ambarawa

source: flickr

Pernah denger campaign #AyoKeMuseum? 


Campaign ini bertujuan untuk menghidupkan kembali museum. Di era yang serba digital dan selfie era ini, berkunjung ke museum seperti hal yang kurang menyenangkan.


Kebanyakan orang lebih memilih spot tempat yang "instagram-able" dibandingkan ke tempat yang bersejarah.


Beberapa waktu lalu, sempet baca thread di twitter kalau di museum PETA yang berada di Bogor sepi pengunjung. Dari situlah gue sedikit tergelitik untuk #MainKeMuseum.


Dulu tahun 2015 pernah ke museum gajah, Museum Nasional kalo sekarang, dan ke museum Bank Indonesia di tahun 2013. Disusul tahun 2016 ke Museum Marlborough di Bengkulu, dan tahun 2017 ke Museum Perjuangan Rakyat Bali dan Museum Geologi.

Lalu tahun 2018 ini ke Museum Kereta Api Ambarawa.

Yeaaayyyy!!



Museum Kereta Api Ambarawa ini dulunya merupakan stasiun kereta api kelas I, yang kini dijadikan museum. Terletak di Desa Panjang, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, museum ini menyimpan berbagai lokomotif kereta api yang pernah berjaya pada masanya.

Sejarah Singkat 


Ambarawa sejak zaman Hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan stasiun kereta api, guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang.


Maka pada tanggal 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa dengan luas tanah 127.500 m₂. Masa kejayaan Stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan Willem I, dihentikan pengorepasiannya sebagai stasiun kereta api dengan jurusan Ambarawa-Kedungjati Semarang. Kemudian disusul pada tahun 1976 lintas Ambarawa-Secang-Magelang juga Ambarawa-Parakan-Temanggung, ditutup.


Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada tanggal 8 April 1976 Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksploitasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa menjadi museum kereta api, dengan mengumpulkan 21 buah lokomotif yang pernah andil dalam pertempuran khususnya mengangkut tentara Indonesia. (sumber: Brosur Museum Kereta Api Ambarawa.


Museum Kereta Api Ambarawa buka setiap hari dari pukul 08.00 s/d pukul 17.00. Dengan tarif 10.000 per orang, kalian bisa menikmati sisa-sisa sejarah perkereta-apian Indonesia.

Layout setelah pintu masuk
Setelah melewati pintu masuk, pengunjung akan disuguhi dengan kisah-kisah sejarah perkembangan lokomotif Indonesia dan kisah mengenai terowongan-terowongan kereta api yang ada di Indonesia.

Sejarah perkeretaapian di Indonesia

Banner sepanjang kurang lebih sekitar 5 meter atau entah berapa meter ini menceritakan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia. Mulai dari tahun 1840 sampai dengan era modern sekarang ini.

Sebagai penikmat perjalanan menggunakan kereta api, gue merasa sangat dekat dengan Museum ini. Kemudian hati merasa flashback ke masa kecil ketika perkereta-apian Indonesia belum sebaik sekarang. Untuk sekedar membeli tiket aja susah, bahkan pernah duduk di bordes kereta bersama Bapak dari Surabaya. Pernah merasakan harga tiket 14ribu rupiah, dan harga kelas bisnis 70ribu rupiah. Di dalam kereta banyak pedagang asongan, pecel, pop mie, pengamen dari yang suaranya kayak artis sampe cuma tepuk-tepuk tangan doang, dan tukang bersih-bersih kompartemen. (Ingat ini kan anak-anak 90?)

Dari yang pengantar bisa masuk ke gerbong dengan bayar peron 2500 rupiah, sampai sekarang hanya pemilik boarding pass aja yang bisa masuk. Sungguh perubahan besar, termasuk di harga tiketnya..... :( 

Di Museum ini juga menyimpan koleksi benda-benda yang berhubungan dengan perkeretapian, seperti topi PPKA, sambungan telepon, dan sebagainya.

Tiket dengan kertas karton


Tiket! Menolak lupa, jaman dahulu tiket kereta api menggunakan kertas karton kecil. Gampang keselip dan lupa naro dimana. Wkwkwkw. Generasi 90's pasti mengerti tentang tiket yang tebal sekali ini.

Halte Cicayur
Selain sejarah perkembangannya, terdapat beberapa contoh halte kereta api. Eh bukan contoh tapi haltenya yang diboyong ke Ambarawa.

Halte Cikoya


Halte yang hanya terbuat dari kayu masih awet hingga sekarang.

Turn Table

Siapa pernah denger turn table atau meja putar? Beberapa waktu yang lalu di platform insapgan ada beredar video orang sedang mendorong sesuatu dengan lokomotif di tengahnya. Inilah meja putar. Gunanya untuk memindahkan arah hadap lokomotif. Biasanya pada lokomotif uap hanya terdapat satu kabin masinis. Karena sesuai aturan reglement, setiap lokomotif uap harus berjalan maju, tidak boleh berjalan mundur. Meja putar ini peninggalan dari era NIS, dipasang di Stasiun Ambarawa sejak tahun 1908. Selain di Stasiun Ambarawa turn table terdapat di stasiun Yogyakarta, Jatinegara, Malang, dan Cilacap. 


Kereta Jadul


Pernah mendengar, tahu, atau lihat kereta jadul berjalan di tengah sawah? 

Kayak gini

Ternyata kereta ini masih ada. Tetapi hanya beroperasi kala akhir pekan dan libur panjang. Sayang kemarin datang kesana pas weekdays jadi ya nontonin keretanya sajalah.

Kereta ini tidak lagi ditarik menggunakan lokomotif uap tapi dengan kereta diesel vintage. Lokomotif uap hanya diperuntukkan bagi penyewa dengan biaya yang sudah ditentukan. Mungkin karena faktor usia dan biaya operasional yang mahal, lokomotif uap tidak digunakan lagi.

Dengan tarif Rp50.000,00 kalian dapat menikmati sensasi naik kereta jadul dengan rute Ambarawa-Tuntang. Kereta ini beroperasi 3x pada hari sabtu, dan 4x pada hari minggu.

Menarik, bukan?




Tunggu apalagi! #AyoKeMuseum !





Note:
Foto dari dokumentasi pribadi kecuali tertulis sumber dibawahnya.

Selasar Madinah

"Boleh duduk disini?" pinta seseorang lelaki, nampak masih muda dan enerjik, tak lupa kacamata hitam menutupi matanya, sebagai penghalau sinar teriknya matahari Makkah siang itu.

Jam menunjukkan pukul 4 sore, namun panasnya masih seperti matahari hanya sejengkal dari kepala, kaca bus pun tak mempan menghalau sinarnya.

"boleh silahkan.." kataku mempersilahkan laki-laki ini duduk di sebelah.

Sepanjang perjalanan city tour ini kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya, mutawwif menyampaikan bahwa di sebelah kanan dari arah datangnya bus adalah Gua Hira, Gua Hira adalah suatu tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

"Jangan minta kesana ya bapak-bapak ibu-ibu... capai nanti. Itu tinggi sekali guanya.." kata Ustad Hudy, pembimbing umrah kami kali ini.

"Dengerin tuh.. Jangan kesana kalo nggak fit banget." sebelahku tiba-tiba nyeletuk.

Oh, sebelahku ada orangnya ternyata.

"Emang ustad udah pernah kesana?"tanyaku penasaran.

"Jangan panggil ustad, saya bukan ustad."

"Yaudah mas aja deh.. Udah pernah kesana tah? Emang itu tinggi banget? Tapi itu kayaknya banyak yang kesana. Banyak putih-putih itu..." tanyaku panjang lebar.

"Udah... sampai atas gempor. Lutut sampai nggak kerasa."

"Subhanallah.. Dulu pas Nabi Muhammad gimana ya...? Bisa sampai kesana..? Subhanallah..."

Entah setelah itu kami membicarakan apa, yang jelas diantara kami berdua tidak membiarkan waktu terlewat sia-sia begitu saja, sampai akhirnya...

"Mas udah nikah tah?"tanyaku penasaran.

"Menurut adek? Eh adek apa mbak ini saya manggilnya?"

"Apa aja deh..."

"Saya lulus 2014 dek, terus 2015 kesini.. mana sempatlah kepikiran nikah. Nikah itu bukan hanya ijab qobulnya aja, tapi kehidupan pasca itu, gimana urus rumah tangga belum nanti istri hamil, melahirkan, ngurus anak.. duh.... masih panjang.." katanya curcol.

"Hoooo.... kirain..."

"Kenapa memangnya.?"tanyanya penasaran.

"Nggak. Mau tau aja, kalo udah nikah itu istrinya disini atau di Indonesia. Gitu."Jelasku.

"Belum... belum nikah.."

"Bapak-Bapak Ibu-Ibu ini bisnya mau puter balik dulu, bapak ibu sabar dulu ya.."kata kak Hudy dengan nada serak serak khasnya.

"Eh gangnya kan sebelah sana, kenapa tadi ga turun seberang sana aja coba, kan bisa nyebrang terus jalan kaki."Kataku cerewet.

"Yaaah kan udah bayar sayang dong udah dibayar, keluar duit masih suruh jalan pula. Hahahaha...."katanya. Menyebalkan sekali orang ini, pikirku.

"Yaa kan hemat waktu. Waktu itu nggak bisa balik lagi, sementara duit bisa dicari."kataku masih ngeyel.

"Emang kamu nggak capek jalan kaki.."

"Aku mah dah biasa jalan kaki. Hmmmm..."

"Yaudah besok tak ajak jalan-jalan di Madinah ya.."

"Bener? Awas ya kalo sampai gempor. Tanggung jawab lho..!"

"Saya tanggung jawab kok.." jawabnya santai.

Yessss ada yang janji jalan-jalan di Madinah nanti.. Artinya nggak akan gabvt disana nanti. Orang ini... Asyik juga.. Tapi aku nggak tau siapa dia. Sekian banyak pertanyaan dan rasa penasaran akan siapakah gerangan laki-laki yang meminta sebelah tempat dudukku ketika di bus.?

Umroh kedua, sampai tawaf Wada, tidak ada komunikasi lagi dengan laki-laki misterius sebelah tempat duduk. Namun kehadirannya membuatku nyaman. Entahlah ada perasaan hangat ketika menatapnya dari kejauhan.. Semacam pengagum rahasia.

Saat tawaf kusempatkan untuk berdoa semoga perjalanan ke Madinah bisa berdekatan lagi seperti sebelumnya. Sehingga ku bisa mengenalnya lebih lanjut.

Namun, sekuat apapun kita berdoa, jika Allah menakdirkan untuk tidak, maka apapun keinginan kita tidak akan dikabulkan.

Perjalanan Madinah kala itu aku bersebelahan dengan ibu-ibu yang rajin sekali Tawaf.

Awalnya aku tidak duduk dengannya, namun dengan Safira, karena Safira masih balita dan ibunya duduk di depan, maka aku minta ibunya duduk dengan Safira dan aku ke depan. Rasanya sediiih banget ketika aku ada kawan duduk. Artinya nggak ada kesempatan untuk kenal dengan lelaki si bangku sebelah itu.

Perjalanan Makkah-Madinah menempuh waktu kurang lebih 7 jam. Semua Jemaah tertidur kala itu, termasuk aku. Sampai menjelang waktu magrib, kami semua turun untuk singgah shalat magrib qada dengan isya.

Tidurku memang istimewa, semiring apapun kepalaku aku tetap lelapnya tidur. Sampai akhirnya dia mengenaliku dan nyeletuk:

"Nyenyak banget bobonya, sampai miring-miring gitu. Hampir aja saya ambil fotonya."candanya sambil terbahak.

"Jahaaattt... ko ambil itu foto ha?" teriakku. 

"Hampiirrr... HAHAHAHAHA"

Aku cuma bisa bersungut-sungut.

Setelah selesai shalat magrib, semua kembali ke bus dan makan malam. Selama makan ibuk-ibuk sebelahku menghilang. Sampai aku kira dia hilang. Ternyata beliau ada bersama saudara-saudaranya.

Sempat terbersit harapan akan ada kesempatan bersama dengan Si bangku sebelah, namun lagi-lagi Tuhan berkata tidak. Ibuk-ibuk itu kembali ketika bus mulai berjalan.

"Loh buk tadi kemana?"Kataku basa-basi.

"Di depan. Tapi itu tempat duduknya ustad."

"Nggak papa. Biar nanti ustadnya disini sama saya."masih berusaha.

"Nggak lah disini aja." 

"Yaudah". Yaudah dengan nada kecewa.

Dari sini aku banyak belajar, seberapa kuat kita punya keinginan, seberapa besar kita berusaha untuk mendapatkan sesuatu tanpa didasari oleh tawakall, pasrah kepada Allah, tidak akan terjadi.

Setelah itu aku pasrah saja. Jika memang belum waktunya pasti tidak, jika memang sudah waktunya bagaimana rencana Allah pasti dipertemukan.


Benar saja.


Kuotaku menjelang sekarat waktu itu. Gara-gara si India. Aku penasaran dengan kebiasaan orang-orang India. Jadilah aku menghabiskan kuota 2GB untuk cari tahu seperti apa orang India ini. 

Aku sempat bertanya dengan tour leaderku saat itu gimana caranya nambah kuota.

Ternyata syarat untuk memperoleh kartu sim di Saudi cukup rumit, harus ada visa dan pasport, dan harganya juga relatif mahal.

Kemudian entah dari kerang sebelah mana, Si bangku sebelah ini muncul. Serasa dewa, dengan innocence celingak-celinguk mencari bangku di restoran hotel, ku sapa si dewa yang muncul tiba-tiba ini.

"Baru turun?"sapa ku.

"Iya. Adek udah makan?"tanyanya sambil duduk di meja sebelah.

"Mas, kuotaku mau habis, cara biar bisa nambah kuota gimana ya? Mahal gakpapa deh.."kataku memelas.

"Susah disini kalo mau beli kuota, mesti pakek visa. Udah tetring aja pake punya saya."

"Emang situ kuota banyak kah?"

"Tenang.. banyak bonusnya kok..."

"Alhamdulillaaahh...." kataku dengan mata berbinar.

"Oh iya, kemarin ada yang janji loh sama ku mau ajak jalan-jalan di Madinah.." kataku menagih janji.

"Hooo iya kah?"tanyanya. Nampaknya lupa.

"Hhmmmm lupa iya?"

"Yaudah deh yuk.. Mas tunggu di bawah ya."


Sejak setelah itu, selama 2 malam, kami menyusuri jalanan Madinah.. Mengelilingi sekitar Masjid Nabawi.. Yang masih tampak ramai meskipun malam mulai menjelang.

Malam kedua kami saling mengenal, bangku sebelah ini mengajakku makan malam. Selain karena jatah dari hotel pasti udah ludes, kebiasaan aku kalau habis ashar pasti baru pulang ke hotel habis isya, dan pastilah makan malam hotel habis.

"Kita ke Albaik ya.."ajaknya.

"Apa itu albaik?"

"Nanti juga tahu."

Jalanan kali ini lumayan agak panjang dan jauh.. Entah orang ini mau menculikku kemana. Aku iya iya aja.

Kemudian kami memasuki sebuah macam square gitu, mall tapi nggak terlalu ramai.

Albaik. Ayam macam K*C, namun dengan bumbu khas timur tengah yang disuntikkan ke jantung daging ayam. (sejak kapan daging ada jantungnya?)

Albaik ramai malam itu. Jadi kami memilih untuk take away.

"Tempatnya penuh banget. Kita cari bangku di luar aja ya...?"katanya.

"Mau dimana?"tanyaku bingung.

"Tadi di depan square lihat ada bangku nggak?"

"Lupa." kataku polos.

"Yaudah cari dulu deh yuk."

Setelah berjalan kesana kemari ketemulah rerumputan yang lumayan nggak bersih di sebelah gerombolan orang India makan dengan sembarangan.

"Disini aja gimana?"

"Yaudah gapapa."

"Maaf ya.. mungkin aku orang paling sembarangan yang ngajakin kamu makan di tepian jalan kek gini.,"kata si bangku sebelah merasa bersalah.

"Hahahaha santai aja."

Malam itu ditemani lalu lalang mobil dan obrolan orang India yang nggak tau juga ngomongin apa.. Kami menghabiskan setengah ekor ayam albaik.

Enak. Enak ayamnya dan yang nemaninya.


Yang paling penting. Gratisnya. 

Hahahaha...


Hari terakhir di Madinah, perjalanan ke Jeddah memerlukan waktu 7 jam. Tak ada harapan akan sebangku dengan si bangku sebelah. Semua sudah ku pasrahkan kepada Tuhan. Kalo memang Tuhan mengijinkan, inilah saat-saat terkahir aku mengenal dia. Mengenal sosok lelaki baik yang luar biasa untukku.

Sosok luar biasa yang kini ada pada tempat tersendiri dalam hatiku.

Bukan sebagai pasangan, namun sebagai teman baik, yang aku kenal di buminya Allah.

Sebagai sosok yang mengajariku banyak hal.

Mengenai keterlibatan Tuhan dalam setiap keputusan dan keinginan kita.

Mengenai rezeki yang perlu kita jemput.

Mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan.

Kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Namun kami ditakdirkan untuk saling mengenal satu sama lain.

Dia dikirim Tuhan untuk mengingatkanku akan adanya Tuhan.. Akan kebaikan Allah.. Tentang perlunya aku tahu tidak hanya Al-qur'an dan Hadist, tapi juga Ijtihad.



Terima kasih bangku sebelah. Jikalau kamu tak meminta tempat duduk di sebelahku. Mungkin aku tak mengenalmu.

Namun bagimu, jikalau aku tak kehabisan kuota, kita tidak mungkin saling mengenal.

You deserve better than me. But you, always in here 💙


Terima kasih atas waktunya selama aku di Madinah. Jalan-jalan menyenangkan di selasar Madinah,, Semua tersimpan rapih disini 💙



Madinah menjelang subuh








With Love,
Meta.

Bikin Paspor, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, gue bikin paspor nih guys. Nah, gue mau share dikit langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membuat paspor. Ini sih waktu bulan Juli lalu ya, nampaknya sekarang bikin pasport udah bisa online dan sepertinya untuk ambil antrian pun via online. Kalo dulu gue antri per urutan datang.

Nah, gue dapet antrian lumayan belakang nih padahal gue dateng jam..... 8.

BTW, gue bikinnya di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta.

Sebenernya gue bikin passpor buat umroh. Nah sedikit perbedaan paspor umroh ini diharuskan nama pemohon terdiri dari 3 suku kata (atau emang paspor pada umumnya itu mengandung nama dengan 3 suku kata, gue kurang paham juga).

Awal mendaftar umroh itu disarankan dari pengelola travel untuk memohon paspor biasa, karena nama aku udah 3 suku kata, jadi nggak perlu pake surat rekomendasi. 

Okay, dengan santainya gue dateng ke Imigrasi.. Ditanyalah saya, 

"mbak buat paspor apa?"
"Umroh pak."
"udah bawa surat rekomendasi dari travelnya?"
"......belum pak."
"nggak bisa, kalo umroh harus ada surat rekomendasi, kalo nggak nanti ditahan di imigrasi"
"......."

Dengan keadaan bingung linglung, gue ngeriwehin sana sini gimana solusi, soalnya travel di jakarta jadi nggak mungkin nyusulin surat rekomendasi saat itu juga.

Akhirnya dari travel ngasih tau kalo bisa dengan paspor umum, artinya di surat permohonan pembuatan paspor baru, ditulis traveling. Hmmm.... semoga aman, dan semoga bisa traveling juga keliling duniyaa.. aamiin.

Oke problem solved. 

Pembuatan paspor ini membutuhkan waktu 5 hari kerja, artinya hanya dilayani pada hari kerja. Selain itu, libur.

Dokumen yang dibawa apa aja sih untuk bikin paspor?

Nah ini yang penting.

Jadi dokumen yang dibawa adalah:
1. KTP (asli dan FC)
2. KK (asli dan FC)
3. Akta kelahiran (asli dan FC)
4. Ijasah (asli dan FC)

Dokumen diatas untuk yang masih single ya... kayak gue.

Kalau ada anak yang akan ikut bepergian sertakan buku nikah orangtua, dan paspor orangtua.

Dan jikalau tidak memiliki akta kelahiran bisa menggunakan ijazah SD hingga SMA.

Jika yang sudah menikah, sertakan buku nikah.

Jangan lupa bawa materai, karena di Imigrasi nanti kita mengisi surat pernyataan.

Kalau lupa nggak bawa materai ada pojok fotokopi di basement Kantor Imigrasi Yogyakarta. Heeeee....

Lanjut cerita, setelah antri dan memastikan dokumen lengkap pastikan pula bawa yang asli. Nggak kok ngga ditahan, cuma di cek aja, abis itu yang asli dibawa pulang, yg FC ditinggal.

Kemudian dipanggil masuk untuk pengecekan kelengkapan dokumen oleh petugas imigrasi, disini kita dikasih formulir permohonan paspor, surat pernyataan belum pernah membuat paspor sebelumnya, dan nomor antrian.

Setelah mengisi formulir, kita menunggu antrian. Waktu itu gue dapet nomor antrian 77. Heeee....

Sekitar 3 jam menunggu, dipanggillah nomor 77, di dalam ruang pembuatan paspor ada 5 loket. Disana kita di cek datanya lagi, naaah sedikit perbedaan mungkin buat gue karena gue PNS, ditanyain SK-nya dong. Yaaaa mana ku tau kalo harus bawa SK kan? dan waktu ambil paspornya gue disuruh sekalian ngelengkapin FC SK PNS. Huaaa.... kawan-kawan PNS suruh ngumpulin SK ngga waktu bikin paspor?

Waktu ngadep petugas imigrasi, kita ditanya juga mau bikin paspor yang apa? Gue bilang yang 48 halaman.

Setelah kelengkapan data udah di cek, dokumen yang asli udah dikembalikan ke kita, kita suruh duduk lagi nih, nunggu lagi untuk foto.

Nunggunya ngga terlalu lama, paling habis 2 lagu. Hweee....

Nah dipanggil lah foto, dan sidik jari semua jari. 

Sambil ngobrol-ngobrol sama petugasnya yang statusnya sama kek gue. PNS.

Gue: Pak kalo di Imigrasi, gaji pusat dong?
PI : Iya dong mbak. mbaknya pns juga?
Gue: Iya pak. di ESDM.
PI: ESDM ngga ada yangg di Jogja?
Gue: ada pak. di BPPTKG. yang ngamatin gunung merapi.
PI: nah minta pindah situ aja... sudah nikah belum?
Gue: ...........


Dimana-mana ya, yang ditanyain nikah apa belum? Zzzzz

Oke setelah sesi foto selesai kita dikasih surat pengambilan paspor dan struk pembayaran yang bisa dibayarin di all bank kayaknya dan kantor pos. Setelah bayar nunggu deh 5 hari kerja dihitung setelah hari kita bayar.


Berapa sih biaya bikin paspornya?

Jenis PasporKeteranganTarif
Paspor BiasaBuku 48 halaman untuk WNI/orangRp.300,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.600,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.300,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman untuk WNI/orangRp.100,000
Paspor BiasaBuku 24 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.200,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.100,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI PeroranganRp.50,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI dua orangRp.100,000
Paspor BiasaJasa penggunaan teknologi sistem penerbitan paspor berbasis biometrikRp.55,000


Bedanya yang 24 halaman dan 48 apa sih?

Kalau dari hasil 'katanya' dan modal googling yang 24 halaman itu untuk TKI/TKW dan negara yang bisa dikunjungi terbatas. But CMIIW yaa kalo gue salah..

Dan kalau untuk yang 48 halaman itu paspor umum dan bisa digunakan untuk ke semua negara.

CMIIW.


Untuk pengambilan paspor, di jam 13-16 ya...


Setelah menunggu 5 hari....



Jeng jeeeeeengg....


Lets go travel around the world hunn...



Sehari Mengamati Gunung Dempo

Seminggu yang lalu, dapat dinas yang jadi dinas favorit. Ke gunung! Yeay! Setelah Gunung Kelud tahun lalu, kali ini pindah ke pulau Sumatera. Its ma first time menginjakkan kaki ke pulau seberang. 


Pos Pengamatan Gunung Dempo

Pertama kali landing di bandara Bengkulu, ternyata Sumatera sama aja kayak jawa. Daerah bandara susah sinyal untuk XL, kalo Bengkulu kota lumayan sih dapet 3G. Heeee.

Karena tujuan utama kami ke Gunung Dempo, maka kami langsung cari travel untuk menuju kesana. Perjalanan Bengkulu-Pagaralam (lokasi Gunung Dempo) sekitar 6-7 jam, diselingi sholat Jumat dan makan siang. Kalo ngeblong gitu bisa perjalanan cuma 4 jam. Jalanan Bengkulu-Pagaralam lumayan "horor". Berkelok-kelok, naik turun (kalo yang mabokan, jan lupa minum antimo bisa muntah tar), melewati hutan yang sepi. Mungkin kalo hari udah gelap ngga ada orang yang berani lewat sana. Dan kalo pun ada yang berani lewat, masih untung sampe tujuan utuh *eh. Maksudnya itu jalan sepi banget dan masih bentuk hutan (((bentuk))). Ya, hutan belantara gitu, ngga tahu deh masih ada hewan buas apa engga disana, kayaknya ada sih. Dan waktu perjalanan itu cuma beberapa kali aja papasan ma orang. Selebihnya, cuma kami aja yang lewat. Sesekali kami juga menemukan monyet dipinggir jalan.

Di tengah perjalanan, kami menyempatkan untuk istirahat sebentar sambil makan siang, waktu di warung, rekan kerja saya pamit ijin toilet, lah si bapak yang punya jawabnya galak, "ITU DISEBELAH SANA!". Gua, yang notabene orang jawa asli, takut yak. Perasaan kita ngomongnya juga pelan kaga bentak-bentak :((((

Ternyata khasnya orang sana memang begitu, logat berbicara mereka memang agak tinggi daripada di jawa maupun sunda, padahal ya mereka ngomong biasa. Yah gemana, terbiasa dengan orang yang halus, kemudian ke tempat yang notabene baru pertama kali ke Sumatra ya agak kaget, perlu waktu untuk gue bisa "biasa aja" dengan logat Sumatrans yang galak. Hmmm....

Selama di perjalanan, beberapa kali kami melewati perkampungan. Perkampungan ini tergolong tradisional, rumah-rumah mereka masih rumah panggung, dan dipinggir-pinggir jalan banyak anjing-anjing berkeliaran dengan bebas. Mayoritas mereka bekerja di kebun, terbukti dengan adanya cengkeh yang sedang di jemur di pelataran rumah. 

Sampai di Pagaralam, kami disambut dengan sopir yang agak galak, sok tahu tapi cemen. Ah rasanya mau balik pulang aja waktu itu. Mana si Egi (pengamat Gunung Dempo) juga ikutan sewot. Waduh gegara gue nih, kan waktu itu gue yang jadi jalan komunikasi antara tim dan pengamat disana. 

Kejadian (hampir) berantem ini disebabkan karena si sopir yang sok tahu jalan, dan si pengamat yang kehilangan jejak kami, si sopir disuruh tunggu malah sewot katanya udah nunggu lama. Hadeh. Pus pus.

Akhirnya sekitar pukul 4 sore kami sampai di Pos PGA Gunung Dempo dengan hati masih agak takut. wk! Sebenarnya, gue sempet punya ekspektasi pos Gunung Dempo bakal (kurang lebih) sama dengan pos Kelud yang terletak di paling atas pemukiman warga, sehingga bakal dengan mudah melihat view gunungnya. Ternyata, kenyataannya jauh dari perkiraan. Pos Gunung Dempo terletak di tengah pemukiman warga, dan seberang jalan menuju pos ada pabrik teh. Ya, kawasan sekitar Gunung Dempo adalah perkebunan teh dan kopi robusta. 

Kami memutuskan untuk menginap di pos, selain karena rame-rame, nginep di pos itu seru. Pernah pengalaman nginep di pos Kelud dengan segala kehororannya, bikin gue ketagihan untuk nginep lagi di Pos PGA. Hal yang menjadi favorit kalau menginap di Pos adalah cerita-ceritanya dengan para pengamat. Gimana sewaktu gunung lagi batuk. Atau kegiatan apa aja yang dilakukan oleh Pengamat selagi gunungnya adem ayem, dsb.

Pengamat Gunung, mungkin sebagian orang menganggap profesi tersebut nggak keren. Tapi dimata gue, para pengamat adalah orang-orang super keren luar biasa. Bayangin, jagain gunung yang nggak tahu kapan bakal sakit, kapan bakal tenang, hidup jauh dari keluarga, dan bagaimana memanfaatkan waktu selagi gunung nggak ada pergerakan. Belum lagi kalo gunung lagi protes, bisa 7/24 jam para pengamat ini nggak tidur, dan kalo pas gunungnya diem? Gimana kehidupan di pos yang cuma dihuni 3 orang bisa terasa nyaman bak di rumah. 

Para pengamat ini, gue mengapresiasi mereka dengan sangat. Bekerja langsung kepada masyarakat. Siapa nggak seneng bisa bermanfaat untuk orang lain? Yah, meskipun bagi orang-orang pusat kadang pengamat dipandang sebelah mata, tapi, nggak di mata gue. Gue yang orang arsip, kerja gue nggak langsung ke masyarakat, dan cenderung kerjaan yang mengejar jabatan. Pokoknya, para pengamat keren gitu aja deh. Nggak tahu udah kata apa lagi yang bisa disematkan untuk profesi ini.

---

Setiba di pos, kami memasak. Yeah, tradisi para orang arsip kalo kunjungan ke pos, pasti masak sendiri. Kami belanja di pasar Pagaralam, atau apalah gue nggak paham. Kami belanja mendekati magrib, tapi masih banyak pedagang yang menggelar dagangannya.


cooking cooking everytime

Setelah masak dan makan malam, dilanjutin cerita-cerita lagi, dan istirahat karena esok harus kerja merapikan arsip. Yha.

Sekitar pukul 7 malam, gua sempet duduk di teras belakang pos dan menemukan pemandangan ini.


untung nggak ada werewolf
Karena kamera yang nggak mumpuni, cuma bisa take gambar kek gitu doang. Kalo aja kamera kayak mata ya, serius pemandangan waktu itu buagus banget. Cahaya bulan, dan awan-awan di sekitarnya, plus cahaya lampu dibawah, dan beberapa bintang di langit, ditambah hawa yang dingin kayak perlakuanmu ke aku, rasanya jadi pengen cepet-cepet punya pacar terus ajak dia kesini. Halah. Oke gue lebay.

---
Pagaralam Day 2.
Hari kedua, dimulai dengan jalan-jalan pagii... Karena malamnya gue tidur terlalu larut, gue sempet ketinggalan sunrise.


sunrise dari pos. mayan lah.

Kami jalan-jalan sampe atas, sampe dekat kebun teh, mungkin sekitar 2 km ada lah kami jalannya. Tapi nggak kerasa udah jauh aja jalannya. 


gunungnya tinggi, jadi cuma bisa foto dari sini (ps. abaikan rambut yang nyempiil.wkwk)
fokus ke gunungnya aja gaes. gaes mo kemana gaes?
Bulan dan gunung. abaikan sarung -______-"
Setelah jalan-jalan dan makan pisang goreng di pinggir jalan, kami balik ke pos untuk.... masak. eh, kerja deng. Oh iya, selama kami jalan-jalan, ternyata kami banyak menemukan orang jawa disana. Hmm.. keturunan jawa sih lebih tepatnya, dan kata pak pengamat juga daerah sana warganya memang campuran jawa, jadi bisa bahasa jawa.

Setelah perut kenyang, kami kerja. 


anggap aja kerja ('-')9
Menurut arsip yang tersimpan, gunung Dempo pernah meletus besar sebelum adanya kehidupan, setelah itu gunung hanya sampai berstatus waspada, seperti tahun lalu, tapi nggak lama gunung kembali aktif normal.

Gunung setinggi 3.173 mdpl ini gunung yang aman untuk didaki. Untuk menuju ke puncak dibutuhkan waktu 7-8 jam. Gunung yang berlokasi di Kota Pagaralam ini ditempuh 7 jam dari Kota Palembang. 

Kelar kerja, dan apa yang kami sampaikan dirasa cukup, kami makaaan (lagi) kali ini, nggak masak-masak lagi. Yakali ah di pos masak sendiri terus. Kami mamam di luar dong sekali kali kan punya duit.
potok dulu sebelum mamam 👌🏼
Ketika bepergian, problem gue adalah makan. Gue termasuk orang yang makannya susah, dan harus pilih-pilih. Dengan gue yang alergi udang, dan seafood cuma bisa makan ikannya aja, gue selalu menjadi trouble maker tim. Hahaha. Tapi perjalanan kali ini makanannya so far oke. Gue nggak menemukan masalah yang berarti. Tastenya juga cukup bisa diterima di lidah gue. Entah karena sudah banyak orang jawa di Sumatera, makanan-makanannya justru enaaak banget di mulut gue. Jadi pen ke Sumatra lagi *eh.

Kelar makan kami picnique ke kebun teeh. Ya kan my trip my sppd kitu katanya kan. wkwkwk 

Awkward moment waktu picnique ini adalaaah jengjengjeng salto waktu naik ATV. Sumfee baru kali ini naik ATV bisa salto se ATVnya -______-

Selain kebuh teh, sebenarnya Pagaralam banyak tempat wisata, ada curug dan Gunung Demponya sendiri. Kami mau menuju ke jalur pendakian Dempo setelah dari kebun teh tadi tapi jadi dipaksa harus balik karena hujan yang cukup deras. 


naque gawls

Sesaat sebelum njungkir

umbrela booooyyyy
 Kalo hati bahagia itu memang waktu jadi terasa berjalan cepet banget yah. Tau-tau hari berikutnya udah harus balik ke Bengkulu. At least di pos cuma 2 malam 1 hari. Tapi segitu aja udah bikin paha memar. Ampe tulisan ini di upload, memarnya masih ada. Hahahaha asem tuh PGA atu. Wkwkwk.

Tulisan ini udah kepanjangan kayaknya yah, terakhiran gue mau ucapin terima kasih kepada PGA Gunung Dempo, Pak Mulyadi dan Kak Egi udah menyambut kami setim dengan baik kek keluarga sendiri. Maaf juga di awal jumpa sempet ada insiden nggak enak. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga karena kita satu keluarga KESDM kan ya kan ya? Heee~

Sampai jumpa di lain kesempataaan..


Terakhiran~~
new family member

take a selfieee~






with love,
meta.