Showing posts with label Random Thought. Show all posts
Showing posts with label Random Thought. Show all posts

Tentang Mimpi

Mungkin aku sedang rindu, sehingga malam ini ada Engkau di dalam mimpiku..

Saat aku terlelap ke dalam alam bawah sadar, Kau hadir dengan jelas disana.

Mengenang di setiap titiknya. Aku hadir di depanMu dengan sangat jelas.

Seakan aku memang berada disana.

Kemudian menjelang pagi, aku merasa bahwa ini nyata. Bahwa aku berada di sisimu untuk kali kedua.

Atau ketiga?

Semoga ini benar..

Semoga ini akan menjadi nyata

Bahwa aku ada disana lagi. 

Untuk kedua kali..

Ketiga kali..

Dan seterusnya..


Dia adalah...






Sekolah Atau Menikah (?)

Pernah nggak, dihadapkan dengan sesuatu permasalahan yang rumit, yang belum pernah dialami..?

Pergulatan batin tentang rencana masa depan yang menyangkut banyak orang.

Sekolah atau menikah?

Iya ini yang sedang gue pikirin sampai menjelang subuh gue nggak kunjung tidur. Keinginan gue untuk sekolah sampai Belanda, kadang mesti kudu dikaji ulang lagi.

Kenapa?

1. IP gua nggak nyampek bro untuk apply beasiswa. HAHAHAHA. Tapi ini masih diusahakan. Semoga aja Dewi Fortuna berpihak sama gue.

2. Ditantang menikah. Siapa coba yang ngga mau nikah? Orang yang ngga punya pacar aja minta-minta dikawinin, nah ini gua ketika udah ada yang ngajak ke pelaminan masih mikir-mikir aja. Huuffffhhh.

3. Omongan orang. I know that people's nyinyir nggak seharusnya masuk ke list pertimbangan kenapa gue harus mikirin ini masak-masak sih.. Tapi, pasti nggak sedikit orang yang bakal nyinyirin pilihan gue, kalo semisal gue pilih sekolah -nanti ga ada orang yang mau karena lo sekolah ketinggian- atau kalo gue milih nikah dulu baru sekolah -kasian suami ditinggal jauh ke luar negeri-

OMG..

I see bahwa pendidikan dan keluarga itu nggak bisa jalan bareng-bareng. Harus salah satu. Karena kalo memprioritaskan keduanya, salah satu bakalan ancur. Entah keluargamu atau pendidikanmu. Gituseeee kata orang.


Tapi kalo calon bojo bisa nerima ambisi (ciailaaa ambisi...ga deng, cita-cita), ga masalah kan ya...? 




Gimana nih calon suami..?




Atau menurut kaliyan, sekolah dan menikah itu bisa jalan barengan gasih? Atau memang harus ada yang dikorbankan salah satu?

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis. Krisis seperempat abad adalah sebuah fenomena yang dialami hampir sebagian orang yang menjelang atau sedang menjalani usia 25 tahun.

Usia 25 merupakan usia dimana seseorang boleh dikatakan dewasa. 

Termasuk gue. Di tahun 2018 ini gue resmi menyandang usia 25 tahun. Artinya, rencana kedepan sudah harus lebih matang dan dalam pengambilan keputusan sudah seharusnya tidak dengan gegabah.

Bagi sebagian orang, quarter life crisis mereka adalah tentang mau kerja dimana, nyaman nggak sama pekerjaan sekarang, mau lanjut kuliah lagi nggak, S2 apa nikah aja ya, teman-teman sudah banyak yang menikah kok aku belum, pacar serius ngga yah, kok kenyataan hidup ini pahit banget yah, aku juga mau bahagia juga dong.. dan semua hal yang perlu dipertanyakan namun hanya dirimu lah yang bisa menjawab.

Let me tell you about my quarter life crisis.

Hidup gue awalnya biasa-biasa aja, gini-gini aja, nggak ada yang istimewa. Di kontrak oleh negara sampai umur 60 tahun membuat hidup gue yaaaa gini-gini aja. Mengikuti kemana arah kebijakan pemerintah.

Datang-absen-terlambat-mulai kerja jam 9-makan siang sampai jam 3-absen pulang-

hhhhhhh


Ya selama ini begitu. Gua nggak akan ceritain sulitnya lah. Nanti kaliyan-kaliyan jadi nggak mau jadi Pe-En-Ice.

Namun semua berubah dari hari ini. Gue mulai mempertanyakan kemana hidup ini akan gue bawa.

Mulai dari perdebatan kemarin malam mengenai permasalahan hidup yang rauwis-uwis.

Working mom or housewife.

Gue marah-marah karena pernyataan seseorang di status Fb nya kalau "percuma perempuan sukses kalo ga bisa urus keluarga dan anaknya diurus pembantu."

Entah kenapa gue merasa sakit hati bacanya. Gue calon working mom nantinya. Bukan berarti gue nggak boleh sukses kaaaannn...?? Dan kalo gue sukses, bukan berarti keluarga gue berantakan kaaaaannnnn....?


***

Lalu perdebatan mengenai untuk apa sih kerja?

Yakin cuma cari uang?

Nggak cari muka kah?

Seandainya jawabannya adalah sesimple mencari uang yang halal...., namun kenyataan nggak segampang itu.

Selama ini gue melihat sebagian orang bahagia dengan pencapaiannya (secara finansial) namun sekeliling dia tidak bahagia akan kehadirannya.

"eh... si X ini gimana sih kalau di kantor?"

"halaaahhh dia ini kasar... males gue deket-deket sama dia.."

Gue: ............


Gue: selama ini gue pikir mereka kompak lho.. pertemanan mereka asyik.

"halaaahhh asal lo tau ya, mereka saling iri. Lihat spd siapa yang paling banyak tahun ini... Traktirrrr doongg... Cieeee yang ke Papua... enak ya bisa jalan-jalan..."

Gue: .............


"tau nggak sih... setelah si Y dipindah gue berangkat kantor itu ngerasa legaaaa banget."

Gue: ...... (gue sedih tingkat dewa gara-gara ditinggal kasub gue, udah pernah gue tulis disini)


"Si W dipindah, si U dipindah juga, dan akhirnya si F ngga ada yang diajak buat shift. Artinya F harus lembur seorang diri tanpa benefit yang sesuai. Gue tau ini ulah si J. Karena ada anak bayi dan istrinya kerja."

Gue: Welcome to real life. Bahwa urusan pribadi lebih penting daripada nasib orang lain.

***

Selama ini egoisme gue adalah: 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.


Entahlah prinsip ini akan bertahan sampai kapan... Kenyataan ini begitu pahit bagi orang yang sedang bergejolak di umur menjelang seperempat abad.







Literally, I need someone who understand about life and discuss about life to make real life as good as we think..



All iz well..

Bikin Paspor, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, gue bikin paspor nih guys. Nah, gue mau share dikit langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membuat paspor. Ini sih waktu bulan Juli lalu ya, nampaknya sekarang bikin pasport udah bisa online dan sepertinya untuk ambil antrian pun via online. Kalo dulu gue antri per urutan datang.

Nah, gue dapet antrian lumayan belakang nih padahal gue dateng jam..... 8.

BTW, gue bikinnya di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta.

Sebenernya gue bikin passpor buat umroh. Nah sedikit perbedaan paspor umroh ini diharuskan nama pemohon terdiri dari 3 suku kata (atau emang paspor pada umumnya itu mengandung nama dengan 3 suku kata, gue kurang paham juga).

Awal mendaftar umroh itu disarankan dari pengelola travel untuk memohon paspor biasa, karena nama aku udah 3 suku kata, jadi nggak perlu pake surat rekomendasi. 

Okay, dengan santainya gue dateng ke Imigrasi.. Ditanyalah saya, 

"mbak buat paspor apa?"
"Umroh pak."
"udah bawa surat rekomendasi dari travelnya?"
"......belum pak."
"nggak bisa, kalo umroh harus ada surat rekomendasi, kalo nggak nanti ditahan di imigrasi"
"......."

Dengan keadaan bingung linglung, gue ngeriwehin sana sini gimana solusi, soalnya travel di jakarta jadi nggak mungkin nyusulin surat rekomendasi saat itu juga.

Akhirnya dari travel ngasih tau kalo bisa dengan paspor umum, artinya di surat permohonan pembuatan paspor baru, ditulis traveling. Hmmm.... semoga aman, dan semoga bisa traveling juga keliling duniyaa.. aamiin.

Oke problem solved. 

Pembuatan paspor ini membutuhkan waktu 5 hari kerja, artinya hanya dilayani pada hari kerja. Selain itu, libur.

Dokumen yang dibawa apa aja sih untuk bikin paspor?

Nah ini yang penting.

Jadi dokumen yang dibawa adalah:
1. KTP (asli dan FC)
2. KK (asli dan FC)
3. Akta kelahiran (asli dan FC)
4. Ijasah (asli dan FC)

Dokumen diatas untuk yang masih single ya... kayak gue.

Kalau ada anak yang akan ikut bepergian sertakan buku nikah orangtua, dan paspor orangtua.

Dan jikalau tidak memiliki akta kelahiran bisa menggunakan ijazah SD hingga SMA.

Jika yang sudah menikah, sertakan buku nikah.

Jangan lupa bawa materai, karena di Imigrasi nanti kita mengisi surat pernyataan.

Kalau lupa nggak bawa materai ada pojok fotokopi di basement Kantor Imigrasi Yogyakarta. Heeeee....

Lanjut cerita, setelah antri dan memastikan dokumen lengkap pastikan pula bawa yang asli. Nggak kok ngga ditahan, cuma di cek aja, abis itu yang asli dibawa pulang, yg FC ditinggal.

Kemudian dipanggil masuk untuk pengecekan kelengkapan dokumen oleh petugas imigrasi, disini kita dikasih formulir permohonan paspor, surat pernyataan belum pernah membuat paspor sebelumnya, dan nomor antrian.

Setelah mengisi formulir, kita menunggu antrian. Waktu itu gue dapet nomor antrian 77. Heeee....

Sekitar 3 jam menunggu, dipanggillah nomor 77, di dalam ruang pembuatan paspor ada 5 loket. Disana kita di cek datanya lagi, naaah sedikit perbedaan mungkin buat gue karena gue PNS, ditanyain SK-nya dong. Yaaaa mana ku tau kalo harus bawa SK kan? dan waktu ambil paspornya gue disuruh sekalian ngelengkapin FC SK PNS. Huaaa.... kawan-kawan PNS suruh ngumpulin SK ngga waktu bikin paspor?

Waktu ngadep petugas imigrasi, kita ditanya juga mau bikin paspor yang apa? Gue bilang yang 48 halaman.

Setelah kelengkapan data udah di cek, dokumen yang asli udah dikembalikan ke kita, kita suruh duduk lagi nih, nunggu lagi untuk foto.

Nunggunya ngga terlalu lama, paling habis 2 lagu. Hweee....

Nah dipanggil lah foto, dan sidik jari semua jari. 

Sambil ngobrol-ngobrol sama petugasnya yang statusnya sama kek gue. PNS.

Gue: Pak kalo di Imigrasi, gaji pusat dong?
PI : Iya dong mbak. mbaknya pns juga?
Gue: Iya pak. di ESDM.
PI: ESDM ngga ada yangg di Jogja?
Gue: ada pak. di BPPTKG. yang ngamatin gunung merapi.
PI: nah minta pindah situ aja... sudah nikah belum?
Gue: ...........


Dimana-mana ya, yang ditanyain nikah apa belum? Zzzzz

Oke setelah sesi foto selesai kita dikasih surat pengambilan paspor dan struk pembayaran yang bisa dibayarin di all bank kayaknya dan kantor pos. Setelah bayar nunggu deh 5 hari kerja dihitung setelah hari kita bayar.


Berapa sih biaya bikin paspornya?

Jenis PasporKeteranganTarif
Paspor BiasaBuku 48 halaman untuk WNI/orangRp.300,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.600,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.300,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman untuk WNI/orangRp.100,000
Paspor BiasaBuku 24 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.200,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.100,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI PeroranganRp.50,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI dua orangRp.100,000
Paspor BiasaJasa penggunaan teknologi sistem penerbitan paspor berbasis biometrikRp.55,000


Bedanya yang 24 halaman dan 48 apa sih?

Kalau dari hasil 'katanya' dan modal googling yang 24 halaman itu untuk TKI/TKW dan negara yang bisa dikunjungi terbatas. But CMIIW yaa kalo gue salah..

Dan kalau untuk yang 48 halaman itu paspor umum dan bisa digunakan untuk ke semua negara.

CMIIW.


Untuk pengambilan paspor, di jam 13-16 ya...


Setelah menunggu 5 hari....



Jeng jeeeeeengg....


Lets go travel around the world hunn...



Tuhan [memang] Maha Adil

Sering saya mendengar orang, bahkan mungkin teman sendiri, bahkan saya sendiri dulu pernah menyebutkan bahwa Tuhan tak pernah adil.

Hanya karena, saya lolos ujian padahal saya tidak berusaha dengan maksimal ketika melalui rangkaian ujian CPNS, sedangkan kawan saya yang berjuang mati-matian untuk lolos, dia tidak lolos.

Bukan saya tidak bersyukur. Bahkan saya menangis saat pengumuman.

Namun berefek pada kinerja saya yang gitu-gitu aja.

Saya masih menilai Tuhan tidak adil.

Hingga suatu ketika...

Saya mendapat ujian atau balasan, yang diluar kendali saya, yang mengubah mindset saya tentang keadilan Tuhan.

Mungkin menurut kita, Tuhan nggak adil. Tapi menurut Tuhan, itu sudah yang paling adil.

Dulu, saya sering merasa, kenapa kawan saya yang satu itu bergelimpangan rezeki. Kenapa yang lain dengan mudahnya melakukan apa yang dia mau.

Yang saya nggak tahu, bahwa pekerjaan dia berat, tuntutan pimpinan banyak, belum lagi untuk kemajuan karirnya dan pendidikannya.

Sedangkan saya, hanya duduk manis menyelesaikan pekerjaan sesuai target, sambil ngeblog.

Ketika saya merasa kok orang lain dengan mudahnya mendapat jodoh, gue kok gagal mulu.

Yang saya nggak tau, dia tiap malam sholat tahajjud, sholat hajat, sehingga Tuhan mengabulkan doa-doanya.

Dulu, saya berfikir bahwa semudah itu kah mendapatkan yang mereka mau, sekolah di luar negeri, eurotrip, dsb..

Yang saya nggak tau, dia belajar siang malam tanpa mengenal lelah. Sedangkan saya... mainan handphone jadi ketinggalan beberapa lomba blog.


Tuhan itu adil, manusia yang sering tidak menyadarinya.


Mungkin dulu, saya merasa kok saya sudah mapan, belum juga ada yang mau. 


Lagi-lagi sentilan Tuhan, lebih baik sendiri memperbaiki diri, daripada lekas tapi terjatuh pada pilihan yang salah.


Atau, konsekuensi atas semua yang sudah direncanakan.


Mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu, atau seseorang yang bisa menerima rencanamu, atau yang bisa menerima kehancuran hatimu saat ini.





Wallahu 'alam.

Jadi, "Kapan?"

"Kapan nikah?"

"Emang nggak pengen punya anak?"

"Mana calonnya?"

Moment lebaran emang nggak jauh-jauh dari pertanyaan itu ya kan? Kapan? Mana calonnya? 

Buat sebagian orang mungkin kesel. Buat gue? Bodo amat. Gue cukup berterima kasih sama Tuhan udah kasih gue sifat cuek yang luar biasa. Sehingga gue nggak begitu gubris pertanyaan-pertanyaan sampah macam itu.

Kenapa gue bilang sampah? Ya, karena kita juga nggak bisa ngejawabnya ya kan? Memang nikah itu segampang tarik napas? Ya kalo pas nggak kena asma sih gampang-gampang aja. Memangnya nikah itu cuma butuh cinta? Makan juga kan perlu nasi, nasi beli berasnya pake duit bukan pake cinta.

Menikah. Semua orang juga pingin nikah. Tak terkecuali gue. Kalo mau jujur-jujuran ya gue mau banget nikah di umur gue yang sekarang. Siapa coba yang nggak kece umur belum middle 20an udah gandeng pasangan yang halal, apalagi kalo udah dikasih momongan, kan cute ke mall dorong-dorong stroller.

*bletak* 

Ok mimpi gue ketinggian. Kenyataannya sekarang, gue jomblo. Iyah gaes disaat diluar sana dedek-dedek SD gemes yayang-yayangan mesra-mesraan punya pacar, gue yang udah kerja dan mapan ini masih gigit jari tiap ke kondangan selalu dateng sendirian atau parahnya menculik secara paksa sahabat gue buat nemenin gue kondangan. Eh wait, namanya culik pasti dengan paksa kok ya? Eng... ok abaikan.

Bulan syawal musimnya orang nikah. Undangan sana sini bikin sumbang makin banyak. Selain itu pertanyaan-pertanyaan diatas tadi udah pasti dilontarkan oleh teman, maupun pengantinnya, "jadi, kamu kapan nyusul?"

Gggrrrr....

Eng.. mbak, buk, pak, mas, kalo kita bisa minta kita juga maunya habis ini nikah, tapi apa daya hilal jodoh belum kelihatan. Seandainya bisa ngomong gitu yah? Akhirnya kalimat yang keluar "Insya Allah ya doain aja." dengan senyum getir.

Menikah itu tentang menerima. Menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan. Mendampingi pasangan kala roda diatas, pun tak pergi ketika roda dibawah. Menikah itu bukan hanya tentang 2 orang, tapi tentang 2 keluarga yang saling menyatu, yang dulunya bukan siapa-siapa akhirnya bergabung menjadi satu trah.

Menikah bukan hanya tentang 2 orang yang saling mencintai, tapi juga tentang mencintai 2 keluarga. Bisakah si perempuan menerima keluarga si laki-laki? Atau bisakah si laki-laki mencintai keluarga si perempuan?

Menikah juga tentang menerima masa lalu. Nggak usah naif, bahwa masing-masing dari kita pernah sebegitu keras mempertahankan orang lain. Pernah sebegitu kacau ketika kehilangan orang lain. Dan pernah dibuat jatuh cinta oleh orang lain. Bisakah menerima itu? Seberapa berartinya quote "masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita." bagi masing-masing individu.

Menikah juga bukan hanya mencintai profesi salah satu, tetapi juga menerima kecerdasan dan pemikiran-pemikiran konyol pasangan. Tidak tertawa ketika pasangan melontarkan pertanyaan "kenapa senja begitu dicintai banyak orang?"

Menikah bisa semudah menarik nafas ketika asma tidak sedang kambuh. Tapi menikah bisa serumit menjawab soal logaritma.

Jangan tanya kapan menikah, sesungguhnya kami-kami ini ingin segera menikah, tapi apa daya Tuhan belum menemukan jodoh kami sekarang. Mungkin saat ini kami disuruh untuk belajar memasak supaya bisa membekali pasangan kami makan siang. Mungkin kami disuruh untuk rajin olahraga supaya sehat dan pasangan tidak minder kalo ngajak kita kondangan. Mungkin kami sedang di suruh banyak berkarya supaya ada yang bisa dibanggakan dari kami. Mungkin juga kami disuruh banyak berdoa dan mengaji supaya nantinya kami bisa mendidik anak-anak kami menjadi pribadi islam yang baik. Dan mungkin-mungkin yang lain yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan.

I Am Just Not Ready About Haters Yet

Awkarin. Dimana-mana bahas Awkarin. Beberapa ada yang sampai viral dan menimbulkan banyak judgemental terhadap si empunya tulisan. Sebagian mengira haters sisanya mengira fans. Sampai tulisan itu hilang dari sosial media. Ada yang me-report as spam jadi tulisan itu dihapus secara sepihak.

---

Saya sebagai penyuka tulisan dan memiliki hobby menulis, saya belum siap jika salah satu tulisan saya menjadi viral. Saya seperti Karin, yang tak siap memiliki haters. Untuk itu saya sangat berhati-hati dalam menulis. Sering saya melempar pertanyaan kepada teman-teman dunia maya saya, apakah sekiranya pantas jika tulisan ini saya publish? Apakah tidak menimbulkan problematika ketika tulisan ini saya sebar? Apakah tidak ada yang sakit hati jika tulisan ini saya publikasikan? Beberapa menjawab ya, banyak juga yang berpendapat jangan. Salah satu tulisan saya tentang "nggak enaknya jadi PNS" akhirnya saya urungkan untuk publish karena ada saran teman untuk jangan publish, selain itu saya juga takut tulisan itu jadi viral. Saya hanya belum siap mendapat judgement yang negatif dari setiap yang membaca tulisan saya. Walaupun niat saya sebenarnya menulis itu hanyalah untuk mengingatkan teman-teman tentang sebuah profesi. Ada banyak profesi di dunia ini, jangan jadikan pns adalah idaman.  

Awalnya, saya menulis adalah sebagai pengingat. Tentang apapun yang berkesan dalam hidup atau setiap kejadian orang lain yang bisa saya jadikan pelajaran. Menulis untuk saya adalah penyalur nafsu ketika ada uneg-uneg, dan tidak ada orang lain yang bisa memahami pola pikir saya. 

Blog adalah satu dari sekian tempat saya menulis. Sebagai media saya belajar, sudah seberapa bisa saya menulis, sesudah sebagus apa saya menulis, bagaimana perkembangan tulisan saya dari awal saya mulai menulis sampai tulisan saya yang terakhir. Udah itu saja tujuan saya memiliki blog ini. Entah siapa yang akan membaca, saya tak peduli yang jelas tugas saya hanyalah tetap menulis.

---

Dunia maya memang berkali-kali lipat lebih kejam dari dunia gemerlap malam Jakarta. Salah ketik sedikit, tulisan menyebar kemana-mana dan jadi viral. Saya pernah dalam posisi ini, ketika saya menyalurkan kekesalan saya terhadap pelayanan suatu perusahaan di indonesia, saya mengakui saya juga salah disana, kata-kata saya kasar dan cenderung menghina. Efeknya? Saya dibully habis oleh geng kampung itu, dan saya di judge sebagai orang yang tak bahagia. ....Ok.

Saat itu saya mungkin belum paham bahwa orang berhak untuk menjudge kita sesuai pikiran mereka terhadap apapun yang kita tampilkan di sosial media. Saya stress luar biasa saat itu sehingga saya memutuskan untuk pergi keluar kota untuk rehat dan meluruskan pikiran saya.

Saya yang notabene hanya di judge oleh satu geng kampung, bisa sesetres ini. Gimana Awkarin? Gimana orang yang tulisannya viral tadi yang ternyata tulisan itu sudah dishare sebanyak 16ribu orang, sehingga dia perlu klarifikasi bahwa tulisan tersebut adalah untuk pembelajaran kita semua dari kehidupan Awkarin.

---

Sosial media memang memiliki dampak yang luar biasa, bahwa pandangan tentang seseorang hanya ditentukan oleh apa yang dia bagikan. Saya sempat dicap sombong sejak saya tinggal di Jakarta berdasarkan check-in saya di path. Saya dicap orang yang tidak bersyukur karena saya sering mengeluh di twitter, saya di cap orang pamer karena saya mengupload foto macbook baru saya di facebook. Yang mereka nggak tahu, setiap check-in adalah untuk bekerja. Yang mereka tak paham, saya hanya melempar kode untuk seseorang, yang mereka tak tangkap adalah seberapa besar pengorbanan saya untuk mendapatkan 1 unit macbook. 

Awalnya saya mendengar sound-sound negatif ini geram, ya karena saya belum siap memiliki haters. Tapi akhirnya saya berfikir bahwa mereka hanya tak lebih tahu tentang saya lebih dari apa yang saya bagikan di sosial media.



Menjadi Orang Baik

Kemarin, gue habis jalan-jalan di sebuah mall di Bintaro. Sepulang gue main, waktu jalan dari mall ke parkiran gue kebarengan sama beberapa orang yang juga mau ke parkiran. Kami berjalan normal, biasa aja. Kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyepak aduh apa sih ya bahasanya, menendang kaki pejalan kaki yang ada diddepannya hingga menyenggol tas belanjaannya. Gue pikir itu temannya yang iseng nyapa. Kan biasa ya kalo temen ngeliat temennya gitu kadang iseng nabok atau ngejegal kaki temennya. Gue masih punya anggapan kek gitu sampai....

"Apa lo? Kenapa liat gue kek gitu?"


Gue pikir yang bilang itu mas-mas yang dijegal tadi, ternyata bukan, justru mas yang tadi ngejegal yang bilang gitu ke mas yang di jegal. Dengan nada tinggi. Padahal mas-mas yang di jegal itu cuma ngeliatin tas belanjaannya (mungkin memastikan kalo belanjaannya nggak kenapa-kenapa) dan ngeliatin mas yang jegal tadi. Mungkin maksud mas korban ngeliatin mas yang jegal karena memastikan siapa yang iseng ngejegal. Apa temennya sendiri atau kenapa? Gue tahu banget itu masnya yang jegal itu yang salah, orang masnya yang depan itu juga jalan normal nggak ada salah apapun karena gue jalan tepat disamping agak belakang dikit (halah.rempong). Mereka hampir adu jotos, atau kayaknya mas yang dijegal ini udah kena pukul deh, soalnya rangorang udah pada ngumpul. Gue memutuskan untuk jalan cepat ke parkiran karena takut kena imbas atau kejadian yang nggak gue mau. 


Aneh memang kenapa justru mas yang jegal ini yang marah? Kenapa nggak mengakui aja kalo salah orang, atau mas yang dijegal ini dikira temennya yang ternyata bukan? Atau nggak sengaja karena jalannya keburu-buru. Kenapa sih orang-orang metropolitan ini? Sebegitu susahya mengakui kesalahan? Sebegitu beratnya mengucap maaf? Minta maaf bukan berarti kita kalah kan? Bukannya meminta maaf adalah wujud ke-gentle-an seseorang?


Ketika sampai di parkiran, kebetulan mas yang dijegal ini parkir motor di belakang motor gue, nah waktu ini sempet denger pacarnya masnya ini ngomong "Bukannya dia yang salah ya? Kok malah dia yang marah-marah?" dengan nada kesal.


---

Menjadi orang baik. Apakah sesulit itu? Mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas apa yang pernah diperbuat, kemudian meminta maaf. Sesulit itu meminta maaf? Semudah itu membalikkan fakta?

Banyak sekali saya menemukan kisah selain cerita diatas. Orang-orang yang ingin dikenal baik oleh orang lain, orang-orang yang berpura-pura baik untuk sebuah eksistensi.

Menjadi orang baik bukan kita harus gembar-gembor tentang kejujuran, tapi tentang menerapkan kejujuran dalam kehidupan sendiri. Menjadi orang baik, bukan hanya yang rajin ibadah tepat waktu, tapi yang mengamalkan ibadahnya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi orang baik bukan yang pertama menyuarakan kepedulian terhadap orang kecil, tapi orang yang terjun secara langsung untuk memberi contoh bahwa peduli tidak hanya di mulut saja.

Menjadi orang baik, saya sendiri belum merasa menjadi orang baik, namun saya belajar untuk menjadi orang baik. Bukan baik dalam artian hanya ingin dikenal baik oleh orang lain atau dalam kurung pencitraan, tapi setulus-tulusnya baik. Sulit memang tapi nggak ada salahnya kan terus belajar dan mencoba?

Karena akan menjadi percuma jika ibadah wajib dan sunah kita on time tapi masih ngoplos air zam-zam pemberian teman dengan aqua dan air zam-zam asli kita bungkus dan dibawa pulang. Percuma koar-koar di sosial media "jika kita berbohong, maka akan timbul kebohongan yang lain, maka lebih baik jujur meskipun menyakitkan" tapi tugas kuliah aja masih copas punya teman. Percuma teriak-teriak "mana kepedulianmu!!" tapi menyisihkan barang 200.000 dari penghasilan untuk diberikan kepada yang membutuhkan aja masih ang-eng-ang-eng. Percuma menyarankan ke teman yang sakit untuk ini itu tapi tetap menyalakan AC hingga yang sakit jadi menggigil.  Percuma nilai akademik selangit tapi masih buang sampah sembarangan. 





Lalu, menurutmu menjadi orang baik itu, yang seperti apa sih?

Mencintai Dengan Sederhana

Seperti daun yang rela gugur setiap kemarau untuk menjaga pohonnya tetap utuh.
Seperti lilin yang rela meleleh untuk menjaga sekitarnya tetap terang.
Seperti langit yang rela ditinggalkan matahari untuk menampakkan bintang-bintang yang indah.

Kau, satu dari jutaan ciptaan Maha Kuasa yang ku kagumi.
Dan banyak diluar sana yang mengagumimu.
Indah parasmu, dan lembutnya sifatmu membuatku hanya berdiri diam menatapmu dengan sudut mataku.

Kau, yang selalu ku sebut dalam 5 waktuku.
Kau yang selalu hadir dalam sepertiga malamku.

Aku mencintaimu dengan sederhana.
Sesederhana doa para guru agar muridnya berhasil.
Sesederhana doa para atlet sebelum berlaga.

Setulus itu aku mencintaimu.
Setulus para tukang becak mengantarkan penumpang ke tujuan.
Setulus doa para kaki lima yang mengharapkan pelanggan segera datang.

Aku menunggumu dengan sabar.
Sesabar para pekerja menanti jam pulang di hari jumat.
Sesabar para kaum LDR menempuh jarak ratusan kilometer untuk bertemu dengan kekasih.

Seperti itu aku mencintaimu.
Kau yang seperti senja, yang disanjung banyak orang.
Namun adakah diantara pengagummu yang mengikatmu sebelum kata aamiin?

Kebutuhan Diatas Keinginan

Setelah punya pekerjaan sendiri, saya jadi merasa punya kuasa untuk membeli barang apapun yang saya mau. Apapun. Dari yang murah sampai yang mahal-mahal. Dari yang sangat penting, sampai cuma dipajang aja di meja, atau barang tersebut masih ada diplastiknya belum dibuka sampai sekarang, hanya karena untuk memenuhi "nafsu" belanja, atau hanya sebuah pelampiasan perasaan.

Sebagai perempuan yang konon katanya bendahara keluarga, mungkin seharusnya saya bisa lebih hemat dan lebih bisa mengontrol keuangan daripada seorang laki-laki. Harus lebih bisa mengutamakan kebutuhan diatas keinginan. Kebutuhan diatas sebuah gengsi.


Mengikuti gengsi tidak akan ada habisnya, yang akan habis adalah uangnya. Tapi untuk saya dari sekian banyak barang yang saya beli yang hanya berakhir di kreseknya, adalah barang yang mempunyai nilai rupiah kecil. Untuk barang dengan nilai rupiah besar saya pastikan adalah barang yang memang saya butuhkan.


Setiap orang memiliki ketentuan masing-masing terhadap barang kebutuhan mereka, dan segudang barang keinginan yang ada dalam pikiran mereka. Saya sangat menginginkan kamera mirrorless, dengan tabungan saya sekarang bisa saja saya membeli kamera Fujifilm X-T2 beserta kelengkapannya. Tapi kan untuk apa? Gengsi semata jika saya tetap membeli mirrorles dengan status saya yang adalah seorang pegawai dengan hobby menulis dan menggambar. Saya lebih membutuhkan sebuah laptop daripada sebuah kamera mirrorles. Kecuali saya hobby fotografi. 


Saya sebagai pegawai dan penulis pemula, saya rela menjebol tabungan untuk sebuah komputer/laptop yang ringan dengan kualitas cukup. Untuk itu macbook baru lebih penting untuk saya daripada saya harus bolak-balik ke servis center hanya karena laptop yang lemot, dan daripada kamera mirrorless, macbook dengan harga yang (mungkin) setara dengan kamera mirrorless lebih berguna untuk saya dan lebih mendukung kerja saya.


Berbeda jika mungkin hobby saya fotografi dan fotografi adalah kerja sampingan saya mungkin mirorless jauh lebih berguna daripada macbook baru. 


Saya dibiasakan orang tua saya menabung untuk memenuhi keinginan saya, kadangpun untuk barang yang tergolong kebutuhan jika itu berharga mahal saya diharuskan untuk menabung dulu. Iya, semua itu karena saya terlahir dari keluarga yang ekonomi cukup, cukup untuk makan dan minum juice tiap hari. hehehe. Nggak ding. Mungkin maksud orang tua saya adalah untuk saya lebih menghargai apa yang telah menjadi milik saya.


Sebelum memutuskan untuk membeli barang yang jauh dari kata murah, pastikan bahwa tabungan aman. Ada uang sisa untuk melanjutkan hidup dan untuk kebutuhan lainnya. Jangan merasa menabung untuk membeli barang yang mahal tapi untuk makan masih kembang kempis. Saya bukan orang keuangan sih yang bisa me-manage uang dengan baik, saya pun masih banyak belajar tentang bagaimana mengelola uang dengan baik, setidaknya memastikan tabungan aman sebelum membeli barang mahal it works for me, saya masih bisa melanjutkan hidup dengan macbook yang cukup menguras tabungan. hehehehehe






Hadiah

Saya adalah manusia yang menganut sebuah penghargaan untuk diri sendiri. Bukan apa-apa. Ini adalah suatu bentuk apresiasi kepada diri sendiri atas apa yang sudah diraih, atau atas sebuah pencapaian atas hal sulit yang sebelumnya saya pikir ini adalah hal sulit. 

Kali ini reward diri sendiri adalah bukan hal simpel yang biasa saya lakukan. Biasanya ketika saya berhasil melakukan hal yang sedikit rumit untuk saya, saya cukup membeli 1 grande caramel machiatto with extra whipped cream and extra caramel sauce, dan saya diri saya kembali merasa bahagia. Atau cukup dengan jalan-jalan keluar kota yang agak jauh dari ibukota.

Sekarang setelah semua berhasil saya lalui, semua apakah? Ya pokoknya semua, berhasil menjadi seperti sekarang ini, berhasil "lepas" dari seseorang yang mungkin mengekang saya. Yang membuat saya nggak tahu apa-apa tentang Jogja, dan membuat saya menyesali itu. Hampir 4 tahun di Jogja belum ngerasain sate klathak, hampir setengah windu saya belum tahu kebun buah mangunan itu kayak apa, pantai-pantai di gunung kidul itu seperti apa, dan parahnya saya belum pernah ke bukit bintang. Nyesel nggak sekarang? Banget.



---
Tahun 2016, bukan tahun yang mudah buat gue, di awal tahun harus ngerasain yang namanya sakit hati. Mulai jatuh cinta lagi dan pertengahan tahun harus sakit hati lagi. Iya, itu kisah yang buruk banget memang. 2x sakit hati di awal tahun. Tapi sekarang semua sudah selesai. Semua sudah baik-baik saja. Bukan berarti ada orang lain yang menggantikan, tapi sekarang ini adalah pikiran dan hati sudah berdamai dengan keadaan, sekarang ini adalah waktunya memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Ketika kita nyaman dengan diri sendiri semua terasa baik-baik saja. Paling tidak, tidak ada lagi getar di dada ketika "dia" online facebook atau terpantau nge-like foto di instagram.


Saya memang tergolong orang yang susah sendiri. Mangkanya ketika saya berhasil melampaui ini, berhasil move on dari manusia-manusia terkampret di jagad raya ini, saya memberikan reward yang agak mainstreem. Reward yang cukup menguras 70% dari tabungan. 

Iya. Sebuah macbook.

Ini bukan semata-mata untuk reward yang nggak berguna dan hanya untuk gengsi, nggak sama sekali. Gengsi adalah nomor wahid dalam hidup gue. Yang penting adalah kebutuhan. Saya butuh macbook untuk akses yang cepat, untuk mobilitas yang gampang maksudnya saya suka pergi kemanapun saya mau hanya untuk mencari ide menulis. Karenanya saya butuh komputer yang ringan dan tanpa lemot. Laptop lama saya sudah lemot bikin uring-uringan tiap mau nulis. Dan booting yang lama bikin ide nulis jadi perlahan pindah haluan. Yha.


Nggak ada salahnya kan menghargai diri sendiri setelah pencapaian yang luar biasa?




*pict from apple.com

Menuju Dua Puluh Tiga

Huuaahh... Nggak terasa udah mendekati usia dua puluh lima. Usia yang nggak pantes lagi kalo suruh mainan lompat tali atau gobak sodor. Usia yang udah diburu-buru eyang untuk segera cari bapak untuk cucunya calon teman menua bersama. Usia yang harus memilih karir atau kuliah lagi?

Ulang tahun, harusnya yang ngerayain ibuk sih, karena kan ini hari perjuangan ibu buat ngeluarin gue setelah gue ganggu hidup dalam dirinya, menjadi bagian dari tubuhnya, dan mengerecoki setiap makannya. Selamat mama! You did it so well sehingga akhirnya gue tumbuh menjadi manusia tercantik di dunia menurut versimu.

Kayaknya baru ini ada postingan tentang tanggal lahir gue, harapannya sih nggak muluk-muluk. Ketika tanggal 22 nanti gue nggak menemui kendala yang berarti. Kerjaan gue di awal bulan april yang cukup bikin gue bilang "gue butuh elo massage" dan bikin mata berkunang-kunang tiap sore, berakhir sudah. 
 
Ah... Dua puluh tiga. Harapan-harapan sama achievement unlock-nya nanti sajalah kalo udah tepat di tanggal 22 ya. Rasanya aku belum siap untuk naik level ke umur dua puluh tiga. Dua puluh dua terlalu membuatku nyaman. Usia yang dibilang dewasa ya udah, remaja juga masih bisa. Dan di umur dua puluh dua aku udah kerja adalah achievement unlock dari diri gue sendiri. 

Sekian warming up menuju dua puluh tiga....






Much Love,
Meta.

Pesan Seorang Sahabat

"Apa? Lo mau bilang lo patah hati lagi? Baru bulan kemaren lo dateng ke gue dengan muka kacau dan sekarang "lagi" dengan orang berbeda?"

"Lo itu, mahal Ta. Lo udah punya penghasilan sendiri, nggak kek gue yang masih minta ke orang tua. Nggak kek gue yang masih berjuang untuk lulus. Dan elo? Masa depan lo tinggal tentang cari jodoh. Kerjaan udah enak, masa tua udah terjamin. Apa lagi sih? Tinggal cari orang yang baik. Udah!"

"Gue nggak mau tau, pokoknya kedepannya gue mau denger kabar lo serius ma cowok. Gue nggak mau lihat lo kejebak hubungan yang salah lagi. Lo nggak kapok-kapok siih patah hati mulu?!"

Gue kek nggak dikasih ngomong sama sahabat gue yang satu ini. Gue pengen cerita, tapi sepertinya dia tahu lebih dulu tentang apa yang mau gue ceritain ke dia.

"Kenapa? Ditinggalin lagi? Dibohongi lagi? Patah hati lagi?" cecarnya begitu telepon tersambung.

"Denger ya, kalo ada lagi yang deketi lo dan dia nggak berani untuk bilang langsung ke orang tua lo, lo berhak untuk ngga perduliin dia."

"Lo PNS, minimal lo dapet PNS juga. Syukur lo dapet lebih."

"Gue pengen dapet orang kemenkeu. Hahahaha."tanggapku.

"Bagus lah kalo gitu. Lo harus perbaiki diri lo biar setara ma orang yang lo mau. Deal?"

"Deal!"