Showing posts with label #DramaPNS. Show all posts
Showing posts with label #DramaPNS. Show all posts

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis. Krisis seperempat abad adalah sebuah fenomena yang dialami hampir sebagian orang yang menjelang atau sedang menjalani usia 25 tahun.

Usia 25 merupakan usia dimana seseorang boleh dikatakan dewasa. 

Termasuk gue. Di tahun 2018 ini gue resmi menyandang usia 25 tahun. Artinya, rencana kedepan sudah harus lebih matang dan dalam pengambilan keputusan sudah seharusnya tidak dengan gegabah.

Bagi sebagian orang, quarter life crisis mereka adalah tentang mau kerja dimana, nyaman nggak sama pekerjaan sekarang, mau lanjut kuliah lagi nggak, S2 apa nikah aja ya, teman-teman sudah banyak yang menikah kok aku belum, pacar serius ngga yah, kok kenyataan hidup ini pahit banget yah, aku juga mau bahagia juga dong.. dan semua hal yang perlu dipertanyakan namun hanya dirimu lah yang bisa menjawab.

Let me tell you about my quarter life crisis.

Hidup gue awalnya biasa-biasa aja, gini-gini aja, nggak ada yang istimewa. Di kontrak oleh negara sampai umur 60 tahun membuat hidup gue yaaaa gini-gini aja. Mengikuti kemana arah kebijakan pemerintah.

Datang-absen-terlambat-mulai kerja jam 9-makan siang sampai jam 3-absen pulang-

hhhhhhh


Ya selama ini begitu. Gua nggak akan ceritain sulitnya lah. Nanti kaliyan-kaliyan jadi nggak mau jadi Pe-En-Ice.

Namun semua berubah dari hari ini. Gue mulai mempertanyakan kemana hidup ini akan gue bawa.

Mulai dari perdebatan kemarin malam mengenai permasalahan hidup yang rauwis-uwis.

Working mom or housewife.

Gue marah-marah karena pernyataan seseorang di status Fb nya kalau "percuma perempuan sukses kalo ga bisa urus keluarga dan anaknya diurus pembantu."

Entah kenapa gue merasa sakit hati bacanya. Gue calon working mom nantinya. Bukan berarti gue nggak boleh sukses kaaaannn...?? Dan kalo gue sukses, bukan berarti keluarga gue berantakan kaaaaannnnn....?


***

Lalu perdebatan mengenai untuk apa sih kerja?

Yakin cuma cari uang?

Nggak cari muka kah?

Seandainya jawabannya adalah sesimple mencari uang yang halal...., namun kenyataan nggak segampang itu.

Selama ini gue melihat sebagian orang bahagia dengan pencapaiannya (secara finansial) namun sekeliling dia tidak bahagia akan kehadirannya.

"eh... si X ini gimana sih kalau di kantor?"

"halaaahhh dia ini kasar... males gue deket-deket sama dia.."

Gue: ............


Gue: selama ini gue pikir mereka kompak lho.. pertemanan mereka asyik.

"halaaahhh asal lo tau ya, mereka saling iri. Lihat spd siapa yang paling banyak tahun ini... Traktirrrr doongg... Cieeee yang ke Papua... enak ya bisa jalan-jalan..."

Gue: .............


"tau nggak sih... setelah si Y dipindah gue berangkat kantor itu ngerasa legaaaa banget."

Gue: ...... (gue sedih tingkat dewa gara-gara ditinggal kasub gue, udah pernah gue tulis disini)


"Si W dipindah, si U dipindah juga, dan akhirnya si F ngga ada yang diajak buat shift. Artinya F harus lembur seorang diri tanpa benefit yang sesuai. Gue tau ini ulah si J. Karena ada anak bayi dan istrinya kerja."

Gue: Welcome to real life. Bahwa urusan pribadi lebih penting daripada nasib orang lain.

***

Selama ini egoisme gue adalah: 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.


Entahlah prinsip ini akan bertahan sampai kapan... Kenyataan ini begitu pahit bagi orang yang sedang bergejolak di umur menjelang seperempat abad.







Literally, I need someone who understand about life and discuss about life to make real life as good as we think..



All iz well..

Rotasi Pegawai, Yay Or Nay?

Disclaimer: Tulisan ini murni opini dari saya pribadi, tidak ada sangkut paut atau bermaksud untuk menjelekkan instansi saya, atau maksud negative lainnya.


Tahun baru yang sedikit suram untuk pekerjaan saya. Dunia per-PNS-an ini sedikit banyak mengubah hidup saya. Waktu saya tergantung dengan pekerjaan saya. Semua serba tak pasti. Bahkan rencana sematang apapun, bisa gagal hanya karena tugas negara. 

Iya. Sudah booking pesawat PP, semua batal karena tugas dinas. Sudah booking kereta, namun terpaksa hangus karena jadwal rapat mendadak.

hhhhhh.....

But, i have to face it.

Dari sekian takdir yang kadang bikin hari meringis-meringis itu, ada satu hal yang paling membuat sedih luar biasa.

Rotasi pegawai.

Mungkin tujuannya adalah penyegaran, baik pimpinan maupun pegawainya sendiri. Bagi pimpinan mungkin sebagai event untuk meningkatkan skill diluar pendidikan formalnya atau menambah pengalaman atau pengetahuan selain bidang yang dikuasainya.

Ada positifnya, bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui bangku sekolah saja, namun did you know that archive is different?

Arsip itu berbeda. Dunia kearsipan membutuhkan SDM dengan skill yang tidak biasa. Dunia kearsipan membutuhkan orang-orang yang kompeten di bidang arsip.

2x kami kehilangan pemimpin yang kompeten meskipun pendidikan formal mereka dari ekonomi.

Namun komitmen mereka untuk memajukan arsip di Kementerian, sungguh luar biasa. Bahkan seorang Widya Pratiwi bisa memahami arsip bahkan mungkin lebih banyak daripada kami-kami yang notabene lahir dari pendidikan kearsipan.

Sisi ingin tahu dan mau belajar dari sosok Widya Pratiwi ini yang patut untuk seharusnya beliau dipertahankan. Kearsipan perlu orang-orang yang mau belajar, komit, dan tegas. Bukan orang-orang yang gila harta menghalalkan segala cara untuk dianggap berada dan bukan orang-orang labil yang gampang tergiring opini.

Pendidikan kearsipan adalah pendidikan yang sulit menurut saya. Sehingga orang-orang di dalamnya perlu niat, komitmen, dan integritas yang tinggi untuk memajuan kearsipan KESDM lebih baik lagi.

Dengan adanya rotasi, kami harus beradaptasi dengan pemimpin baru, menyesuaikan dengan ritme kerja beliau, dan harus bisa mengikuti atau bahkan mengarahkan kemana subbagian ini akan terbang dengan kapten yang baru.

Rotasi seharusnya tidak secepat ini. Terpaut 1 tahun dari kasub sebelum dan sebelumnya, dan kini kami harus beradaptasi lagi. Kalau beradaptasi terus kapan kerja seriusnya? Kalau harus menyesuaikan terus kapan selesai pending matters-pending matters itu?

Di Kasub sebelumnya, perencanaan sudah matang tinggal eksekusi, kemudian kena rotasi, beberapa perencanaan tidak berjalan sesuai rencana. Kemudian Kasub yang ini perencanaan sudah tinggal pelaksanaan saja harus beradaptasi lagi, dan kemungkinan beberapa rencana tidak berjalan sesuai yang sudah direncanakan.

Jadi menurut saya, khususon kearsipan rotasi diberikan setelah lebih dari 3 tahun jadi pekerjaan yang sudah terencana dengan baik bisa diwujudkan sesuai dengan perencanaannya. 




CMIIW